Ambisi Persebaya Surabaya Kalahkan Borneo Bakal Panaskan Rivalitas Juara Persib Bandung dan Persija jakarta

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Pada Sabtu malam, 7 Maret 2026, Stadion Segiri di Samarinda dipastikan kembali menjadi panggung ujian berat bagi tim tamu. Atmosfer yang pekat oleh ambisi dan tekanan klasemen akan menyelimuti pertemuan antara Borneo FC dan Persebaya Surabaya dalam lanjutan pekan ke-25 BRI Super League Indonesia musim 2025/2026.

Bagi Persebaya, pertandingan ini lebih dari sekadar laga tandang. Ia menjadi titik penentu apakah tim berjuluk Green Force itu masih mampu menjaga napas persaingan di papan atas. Kemenangan bukan hanya soal tambahan tiga poin, melainkan juga pesan bahwa Persebaya masih berada dalam orbit perebutan gelar—sebuah persaingan yang selama ini lebih sering dihiasi oleh dua nama besar: Persib Bandung dan Persija Jakarta.

Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, memahami benar bahwa perjalanan menuju Samarinda tidak boleh ditempuh dengan persiapan biasa. Ia memilih pendekatan yang sistematis: dua tahap evaluasi yang menjadi fondasi bagi strategi tim.

Tahap pertama dimulai dari dalam. Tavares dan staf pelatih memutar kembali rekaman pertandingan terakhir Persebaya melawan Persib. Bagi pelatih asal Portugal itu, pertandingan tersebut menyimpan pelajaran penting tentang efektivitas dan kedisiplinan permainan.

“Pertama-tama kami harus menganalisis permainan dan memperbaiki hal-hal yang belum berjalan dengan baik, terutama terkait peluang yang kami ciptakan dan peluang yang didapatkan lawan,” kata Tavares.

Di atas kertas, Persebaya sebenarnya tidak tampil buruk. Mereka mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Namun, persoalan lama kembali muncul: penyelesaian akhir yang belum tajam. Kesempatan demi kesempatan belum sepenuhnya berubah menjadi gol.

Masalah lain muncul pada organisasi permainan. Pada beberapa momen, Persebaya terlihat memberi ruang terlalu longgar di area lini kedua. Situasi ini memberi kesempatan kepada pemain lawan untuk melepaskan tembakan jarak jauh—sebuah skenario yang hampir berbuah gol.

Tavares menilai celah seperti itu tidak boleh terulang.

Evaluasi internal itu bukan hanya soal membedah kesalahan. Ia juga berfungsi menjaga apa yang sudah berjalan baik. Intensitas permainan, keberanian menyerang, serta semangat kolektif pemain menjadi modal yang ingin dipertahankan.

Setelah pekerjaan “membongkar diri sendiri” selesai, Persebaya memasuki tahap kedua: membaca lawan.

Kali ini perhatian diarahkan pada karakter permainan Borneo FC. Klub berjuluk Pesut Etam itu dikenal agresif, terutama ketika bermain di kandang. Sepanjang musim ini, Stadion Segiri menjelma menjadi benteng yang sulit ditembus. Dari sepuluh laga kandang yang sudah dijalani, Borneo hanya sekali menelan kekalahan.

Statistik tersebut bukan sekadar angka. Ia menggambarkan sebuah kenyataan: Samarinda bukan tempat yang ramah bagi tim tamu.

“Semua orang tahu bahwa bermain di Samarinda bukan hal yang mudah,” ujar Tavares.

Ia menyadari bahwa Borneo memiliki pemain-pemain yang berbahaya, terutama dalam situasi tembakan jarak jauh. Karena itu, disiplin menjaga jarak antar lini menjadi perhatian utama dalam persiapan tim.

Persebaya tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika menghadapi Persib—memberi ruang terlalu luas bagi pemain lawan untuk menembak dari luar kotak penalti.

Sementara itu, Borneo FC datang dengan kepercayaan diri yang tidak kalah besar. Pada pekan sebelumnya, mereka berhasil menahan imbang Persija Jakarta. Hasil tersebut menjaga posisi mereka tetap berada dalam jalur persaingan papan atas.

Kondisi itu membuat pertemuan kedua tim di Samarinda diperkirakan berlangsung dengan tensi tinggi. Dua tim yang sama-sama mengincar stabilitas posisi klasemen akan bertarung dalam pertandingan yang bisa memengaruhi dinamika perebutan gelar.

Bagi Persebaya, kemenangan di Segiri akan membuka kembali ruang dalam perburuan puncak klasemen—sekaligus memanaskan rivalitas yang selama ini lebih sering dimonopoli Persib dan Persija.

Namun jalan menuju hasil tersebut tidak sederhana.

Tavares menegaskan satu hal kepada para pemainnya: konsistensi. Dalam pandangannya, pertandingan seperti ini tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh fokus, sikap, dan intensitas yang harus terjaga sepanjang 90 menit.

Jika semua itu bisa dipertahankan, Persebaya memiliki peluang untuk pulang dari Samarinda dengan hasil yang diinginkan.

Di tengah gemuruh Stadion Segiri dan tekanan persaingan papan atas, Green Force akan mencoba satu hal sederhana—membuktikan bahwa mereka masih layak diperhitungkan dalam perebutan gelar musim ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rayakan Silaturahmi Lebih Hangat dengan Halal Bi halal Rantangan Package di Grand Pasundan Convention Hotel
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain, Disebut Pendukung Intelijen dan Militer Musuh Teheran
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo terbuka terhadap kritik soal BoP
• 18 menit laluantaranews.com
thumb
Bukan Pesta Mewah! Mahalini Raharja Rayakan Ultah ke-26 dengan Konsep ‘Warung Ceu Lini’ yang Unik Abis
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Menteri Lingkungan Hidup Izinkan Kembali Penggunaan Insinerator untuk Olah Sampah Kayu di Bali
• 13 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.