JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis meminta Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) karena BoP digagas oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tidak berpihak pada perdamaian.
"Saya kira soal BoP juga sama, kalau kita minta, ini tidak efektif, ya keluar saja," kata Cholil saat hendak menghadiri acara buka puasa bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan para tokoh organisasi masyarakat Islam lainnya di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Cholil sendiri memandang saat ini Board of Peace sudah tidak efektif meredakan perang Iran versus AS dan Israel.
Baca juga: PBNU Dukung RI Gunakan BoP Demi Perdamaian, Ibarat Gali Lubang Pakai Sendok
Apalagi kini inisiatornya yaitu AS justru tidak memberikan contoh dan memihak kepada perdamaian.
"Jadi kalau kita kan melihatnya tidak efektif ada di BoP itu karena ternyata penggagasnya juga tidak memberikan semacam gambaran baik track record maupun sekarang yang memihak terhadap perdamaian," tuturnya
Lebih lanjut, ia berharap Indonesia bisa ikut terlibat menciptakan perdamaian sesuai prinsip politik bebas aktif di tengah perang uang memanas di Timur Tengah.
Menurutnya, setiap negara harus menghargai kedaulatan masing-masing negara.
"Jangan sampai perang ini mengenakan pada rakyat sipil. Kemudian kita berharap juga ini bisa menciptakan perdamaian dengan memaksimalkan peran PBB dan OKI karena semua akan rugi kalau ini perang terus berlangsung," jelasnya.
Baca juga: Jimly Usul RI Tunda Kewajiban BoP hingga Iran Aman dan Israel Akui Palestina
Perang Iran vs koalisi AS IsraelSebagai informasi, perang di Timur Tengah memanas usai Iran menjadi sasaran serangan Israel dan AS pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Israel menjadi pihak yang pertama kali mengonfirmasi bahwa negaranya resmi menyerang Iran.
Baca juga: Muzani: RI Bisa Keluar BoP tapi Harus Ada Kesepakatan Bersama
Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Negeri Paman Sam bergabung dengan Israel menyerang Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei tewas dalam serangan itu.
Misil-misil yang menghujani langit Teheran.
Iran pun langsung membalas serangan Israel dan AS dengan menembakkan sejumlah misil ke lokasi yang terkait dengan operasi militer AS.
Beberapa pangkalan udara AS yang diserang adalah Al Udeid di Qatar, Pangkalan udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan Markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Hingga kini, situasi keamanan belum mereda, termasuk keamanan di luar Iran dan Israel meliputi kawasan regional Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




