Grid.ID- Profil Mojtaba Khamenei ramai dibahas setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatolah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kematian Ayatolah Ali Khamenei memicu spekulasi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi tertinggi dalam sistem politik Republik Islam Iran.
Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatolah Ali Khamenei. Ulama berusia 47 tahun itu disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang berpeluang menggantikan ayahnya.
Sejumlah laporan media internasional menyebut namanya muncul dalam pembahasan para ulama yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi. Meski belum ada pengumuman resmi, figur ini sudah lama dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar kekuasaan Iran. Berikut ulasan lengkap mengenai profil Mojtaba Khamenei yang kini menjadi sorotan dunia.
Disebut Kandidat Kuat Pemimpin Tertinggi Iran
Profil Mojtaba Khamenei menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa dirinya menjadi kandidat terkuat untuk menduduki posisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Menurut laporan The New York Times pada Rabu (4/3/2026), para tokoh agama dan ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi telah menggelar musyawarah pada Selasa (3/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, nama Mojtaba Khamenei mencuat sebagai salah satu kandidat utama untuk menggantikan posisi ayahnya. Meski demikian, hingga kini keputusan resmi masih dalam tahap pembahasan oleh lembaga yang berwenang.
Di sisi lain, sejumlah pihak juga menyampaikan kekhawatiran terkait kemungkinan risiko keamanan apabila Mojtaba benar-benar ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Hal ini mengingat meningkatnya ketegangan regional setelah serangan yang menewaskan ayahnya.
Profil Mojtaba Khamenei
Mengutip Tribun Palu, Kamis (5/3/2026), Mojtaba Khamenei merupakan anak kedua dari Ali Khamenei. Ulama konservatif ini berusia 47 tahun dan dikenal sebagai figur yang jarang tampil di depan publik.
Menurut laporan berbagai media internasional, Mojtaba tidak berada di lokasi ketika serangan udara terjadi di kediaman Pemimpin Tertinggi di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan beberapa anggota keluarganya, termasuk ibu, istri, dan salah satu saudara perempuannya.
Sementara itu, Mojtaba Khamenei dilaporkan selamat dari gelombang pemboman yang terjadi di Iran. Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran terkait situasi tersebut.
Figur Berpengaruh di Balik Layar Kekuasaan Iran
Profil Mojtaba Khamenei juga menunjukkan bahwa ia telah lama menjadi figur berpengaruh dalam sistem pemerintahan Iran, meskipun tidak memegang jabatan politik resmi. Selama bertahun-tahun, ia bekerja dari Kantor Pemimpin Tertinggi sebagai penjaga akses dan perantara kekuasaan di lingkaran ayahnya. Peran tersebut membuatnya memiliki pengaruh besar dalam berbagai keputusan penting di pemerintahan.
Sejumlah pengamat bahkan membandingkan posisinya dengan Ahmad Khomeini, putra pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini. Ahmad Khomeini pada masa awal negara tersebut juga dikenal sebagai orang kepercayaan utama pemimpin tertinggi. Para analis menilai Mojtaba perlahan memperluas pengaruhnya di berbagai institusi politik, keamanan, dan keagamaan di Iran.
Kedekatan dengan Garda Revolusi Iran
Dikutip dari Kompas.com, salah satu sumber kekuatannya disebut berasal dari kedekatannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Islam. Pada masa Perang Iran–Irak pada 1980-an, Mojtaba pernah bertugas di Batalyon Habib. Unit tersebut mayoritas beranggotakan sukarelawan dari jaringan revolusioner Republik Islam yang berkembang pada masa itu.
Batalyon tersebut berada dalam formasi yang berafiliasi dengan IRGC dan terlibat dalam sejumlah pertempuran besar selama perang. Pengalaman tersebut dianggap berpengaruh dalam membangun jaringan Mojtaba di lembaga keamanan Iran. Banyak rekan seperjuangannya pada masa perang kemudian menduduki posisi penting di institusi keamanan dan intelijen Iran.
Berbagai Isu dan Tuduhan dari Oposisi
Profil Mojtaba Khamenei juga tidak lepas dari berbagai kontroversi. Sejumlah kelompok oposisi Iran selama hampir dua dekade terakhir menuduhnya terlibat dalam penindasan terhadap demonstrasi anti-pemerintah.
Tuduhan tersebut terutama terkait dengan peristiwa Gerakan Hijau Iran pada 2009. Demonstrasi besar itu terjadi setelah pemilihan presiden yang kontroversial dengan kemenangan Mahmoud Ahmadinejad.
Beberapa analis menyebut Mojtaba memiliki peran dalam mengoordinasikan penindakan terhadap gerakan protes tersebut. Namun, tuduhan itu tidak pernah dibuktikan secara resmi dan Mojtaba sendiri tidak memberikan tanggapan publik. Direktur Middle East Political and Information Network (MEPIN), Dr. Eric Mandel, juga menyebut Mojtaba sebagai figur sentral yang kurang transparan dalam struktur kekuasaan Teheran.
Selain pengaruh politiknya, Mojtaba Khamenei juga kerap dikaitkan dengan berbagai laporan mengenai jaringan ekonomi yang luas. Beberapa media Barat menyebut adanya dugaan keterlibatan Mojtaba dalam berbagai aset dan jaringan ekonomi di luar negeri.
Namun, laporan tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi. Mojtaba sendiri tidak pernah memberikan pernyataan publik terkait tuduhan tersebut.
Status Keulamaan Mojtaba Khamenei
Dari sisi keagamaan, profil Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa ia memiliki gelar hojatoleslam. Gelar tersebut merupakan tingkat ulama menengah dalam hierarki ulama Syiah. Hal ini sempat memunculkan perdebatan karena Pemimpin Tertinggi Iran biasanya dipegang oleh ulama dengan gelar lebih tinggi, yakni ayatollah.
Namun, sejarah mencatat bahwa ayahnya, Ali Khamenei, juga belum menyandang gelar ayatollah ketika pertama kali diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini. Pada saat itu, konstitusi Iran diubah untuk memungkinkan pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi.
Proses Penentuan Pemimpin Tertinggi Iran
Dalam sistem politik Iran, pemilihan Pemimpin Tertinggi dilakukan oleh Majelis Pakar. Lembaga ini terdiri dari 88 ulama yang memiliki kewenangan untuk menentukan pemimpin tertinggi negara.
Sementara menunggu keputusan resmi, pemerintahan sementara Iran saat ini dikendalikan oleh sebuah dewan yang terdiri dari ulama konservatif Alireza Arafi, kepala peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, serta presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian. Keputusan mengenai siapa yang akan menggantikan posisi tersebut kemungkinan baru diumumkan setelah situasi keamanan di Iran kembali stabil.
Dengan berbagai pengaruh yang dimilikinya, profil Mojtaba Khamenei kini menjadi salah satu yang paling diperhatikan dalam dinamika politik Iran. Banyak analis menilai jika ia benar-benar ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi, hal tersebut dapat memperkuat dominasi kelompok garis keras dalam pemerintahan negara tersebut. (*)
Artikel Asli




