Menkes: Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa Anak Fokus pada Keluarga dan Sekolah

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Krisafika Taraisya Subagio

TVRINews, Jakarta

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya pencegahan dini masalah kesehatan jiwa pada anak dengan memperkuat peran keluarga dan lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikannya usai rapat sinkronisasi koordinasi dan pengendalian pencegahan serta penanganan masalah kesehatan jiwa anak yang disertai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) oleh sembilan kementerian/lembaga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurut Budi, berbagai data menunjukkan peningkatan kecenderungan anak yang memiliki keinginan hingga mencoba melakukan bunuh diri. Kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor utama, terutama persoalan di lingkungan keluarga, perundungan atau bullying, serta tekanan akademik.

"Kita mencoba menyelesaikannya sedini mungkin. Data menunjukkan keinginan untuk bunuh diri, berpikir, hingga mencoba itu banyak terjadi karena masalah keluarga. Kedua karena bullying, baik di sekolah maupun di luar sekolah melalui media sosial, dan ketiga karena tekanan akademik," ujar Budi, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pemerintah melihat ada dua titik utama yang perlu diperbaiki untuk menekan masalah kesehatan mental pada anak, yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Pada aspek keluarga, pemerintah melibatkan sejumlah kementerian seperti Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kementerian Sosial Republik Indonesia, serta Kementerian Agama Republik Indonesia guna memperkuat pola pengasuhan dan lingkungan rumah yang lebih sehat bagi anak.

"Lingkungan keluarga ini yang paling besar persentasenya, sehingga penting untuk memperbaiki gaya hidup dan interaksi di rumah agar anak mendapat dukungan yang lebih baik," jelasnya.

Sementara di lingkungan sekolah, pemerintah juga melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memastikan interaksi antar siswa berlangsung lebih sehat serta bebas dari perundungan.

Menurut Budi, langkah tersebut diharapkan dapat menekan tekanan psikologis yang dialami anak-anak sehingga risiko keinginan maupun percobaan bunuh diri dapat dikurangi.

Ia juga mengungkapkan data sementara menunjukkan peningkatan cukup signifikan pada kecenderungan tersebut.

"Kalau yang berpikir untuk bunuh diri naik sekitar 1,6 kali. Sedangkan yang mencoba bunuh diri meningkat sampai tiga kali lipat. Dan kebanyakan terjadi pada perempuan, jumlahnya lebih besar dibandingkan laki-laki," ucapnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Samsat Keliling Jadetabek ada di sini
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
FPTI Resmi Laporkan Dugaan Kekerasan dan Pelecehan Seksual ke International Federation of Sport Climbing
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Kepala Daerah Boleh Masuk Dapur SPPG Untuk Mengawasi Menu MBG
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Nintendo Rilis Game Boy Jukebox, Pemutar Musik Pokémon Bernuansa Retro
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Angin Duduk Itu Mitos, Dokter Tegaskan Itu Serangan Jantung
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.