Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perilaku sosial masyarakat mengalami pergeseran signifikan, terutama dalam hal menjaga privasi dan adab. Jika dahulu nilai-nilai kesantunan dan rasa malu sangat dijunjung tinggi dalam hubungan antarmanusia, kini era digital membawa fenomena baru yang dikenal sebagai 'flexing' atau memamerkan aktivitas pribadi demi konten semata.
Dahulu, orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk memulai sesuatu dengan doa dan rasa syukur. Contoh sederhana adalah saat makan bersama, di mana fokus utama adalah memohon keberkahan kepada Allah atas rezeki yang dihidangkan. Namun, kondisi saat ini berbanding terbalik.
Alih-alih langsung berdoa, banyak orang kini lebih sibuk mengambil foto makanan untuk disebarkan ke media sosial dengan tujuan memamerkan kemewahan atau sekadar eksistensi. Fenomena ini disebut sebagai 'flexing riya', sebuah perilaku yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT karena menonjolkan kebanggaan diri di hadapan manusia.
Baca juga: Flexing vs Sedekah, Mana yang Lebih Berkah?
Dalam ajaran Islam, ketersembunyian dalam beribadah justru menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan perlindungan di akhirat. Ustazah Munifah Syanwani menyebutkan bahwa surga sangat merindukan orang-orang yang beribadah secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, amal yang dilakukan tanpa diketahui orang lain akan menjadi penolong di Padang Mahsyar, saat tidak ada perlindungan lain yang tersedia.
Alih-alih berlomba untuk menjadi viral melalui konten-konten pamer, umat Muslim diharapkan bisa belajar untuk menyembunyikan ibadah, baik itu saat berpuasa maupun bersedekah. “Yuk kita belajar untuk tidak flexing, tidak belajar riya, tidak belajar untuk selalu viral,” ajak Ustazah Munifah.



