Membaca Tragedi Kampus Tanpa Menyederhanakan Luka Identitas

kumparan.com
23 jam lalu
Cover Berita

Tragedi kekerasan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim Riau memantik satu narasi besar: dugaan perselingkuhan dan latar belakang pelaku yang disebut introvert.

Dua kata itu cepat sekali menjadi bahan spekulasi publik.
“Diselingkuhi.”
“Pendiam.” Seolah-olah dari sana jawabannya selesai, padahal manusia tidak pernah sesederhana label.

Pengkhianatan dan Luka Identitas

Dalam psikologi relasi, pengkhianatan bukan hanya peristiwa emosional. Ia bisa menjadi identity threat. Ketika seseorang terlalu. menggantungkan harga diri pada relasi romantis, dugaan perselingkuhan dapat terasa seperti penghancuran diri.

John Bowlby melalui Attachment Theory menjelaskan bahwa individu dengan pola anxious attachment cenderung memiliki ketakutan ditinggalkan yang tinggi. Penolakan atau jarak emosional dapat memicu respons ekstrem karena dianggap ancaman terhadap rasa aman. Bagi individu dengan regulasi emosi yang lemah, luka ini bukan hanya menyakitkan ia terasa memalukan, ketika rasa malu yang tidak terkelola sering berubah menjadi kemarahan.

Introvert Bukan Penyebab Kekerasan

Perlu ditegaskan: introversi bukan faktor risiko kriminalitas. Carl Jung mendefinisikan introversi sebagai orientasi energi ke dalam diri, bukan sebagai ketidakstabilan emosi, namun ada dinamika yang perlu dibaca lebih dalam.

Sebagian individu yang cenderung tertutup mungkin:

1. Sulit mengungkapkan kecemburuan secara langsung

2. Memendam konflik lebih lama

3. Menghindari konfrontasi hingga titik ledak

James Gross dalam teori Emotion Regulation menjelaskan bahwa kegagalan mengelola emosi di tahap awal (misalnya melalui komunikasi) dapat meningkatkan kemungkinan respons impulsif di tahap akhir. Artinya, masalahnya bukan pada introversinya.
Masalahnya pada emosi yang tidak pernah diberi ruang sehat untuk keluar.

Maskulinitas yang Tersinggung

Dalam konteks budaya, kita masih hidup dalam sistem yang sering mengajarkan bahwa lelaki harus “kuat”, “tidak boleh kalah”, dan “tidak boleh ditinggalkan.” Ketika relasi berakhir atau muncul dugaan pengkhianatan, sebagian individu membaca situasi itu sebagai penghinaan terhadap harga diri dan statusnya. Konsep fragile masculinity menjelaskan bagaimana identitas yang terlalu rapuh bisa merasa terancam oleh penolakan. Kekerasan lalu muncul sebagai cara keliru untuk memulihkan rasa kuasa. Padahal kekerasan justru menegaskan kehilangan kendali.

Literasi Emosi yang Tertinggal

Kampus mengajarkan logika, metodologi, dan teori.
Namun siapa yang mengajarkan bagaimana menerima bahwa seseorang tidak lagi memilih kita? Pada kasus ini usia mahasiswa (18–25 tahun) adalah fase perkembangan identitas menurut Erik Erikson. Di tahap ini, individu mencari kelekatan dan pengakuan. Relasi romantis sering menjadi pusat makna hidup.

Tanpa literasi emosional yang memadai, patah hati bisa terasa seperti kehilangan masa depan. Dan ketika kehilangan dibaca sebagai kehancuran total, responsnya bisa destruktif.

Jangan Menyederhanakan, Jangan Menghakimi

Mengatakan tragedi ini semata-mata karena “diselingkuhi” atau karena “introvert” adalah reduksi yang berbahaya. Kekerasan tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ia hasil interaksi antara:

1. Luka harga diri

2. Regulasi emosi yang buruk

3. Pola pikir posesif

4. Tekanan sosial

5. Minimnya dukungan psikologis

Yang perlu kita pertanyakan bukan hanya siapa yang salah dalam relasi tersebut.
Tapi mengapa kita masih gagal membangun generasi yang mampu menghadapi kehilangan tanpa melukai.

Koridor kampus itu mungkin sudah kembali tenang. Tetapi tenang bukan berarti pulih.

Tragedi ini mengingatkan bahwa cinta bukan tentang memiliki.
Bahwa pengkhianatan, sesakit apa pun, tidak pernah menjadi legitimasi untuk kekerasan.
Dan bahwa kepribadian introvert atau ekstrovert tidak pernah menjadi takdir perilaku. Yang menentukan adalah bagaimana kita belajar mengenali, menerima, dan mengelola emosi. Karena pada akhirnya, dewasa bukan tentang seberapa dalam kita mencintai.
Tetapi seberapa matang kita menghadapi ketika cinta itu tidak lagi kembali.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Agar Hemat BBM, Pramono Dorong Warga “Mudik ke Jakarta” saat Lebaran
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Menakar Peran dan Momentum Prabowo sebagai Mediator Iran-Amerika Serikat
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kasatgas Tito Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Hidrometeorologi di Pidie Jaya Aceh
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Kemenlu Prioritaskan Perlindungan 519 Ribu WNI di Timur Tengah, Terbanyak di Arab Saudi
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Intip Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 6 Maret 2026, Buruan Cek Syaratnya!
• 20 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.