jpnn.com, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana percepatan program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi motor listrik.
Pemerintah Indonesia memasang target ambisius dalam transisi energi nasional yakni mencapai 6 juta unit per tahun.
BACA JUGA: Stok BBM RI Cuma untuk 20 Hari, Bahlil Ungkap Masalah Ini
Bahlil mengatakan bahwa program konversi motor telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir dengan target kurang lebih 200 ribu unit motor per tahun. Menurutnya, pemerintah akan menggenjot target lantaran banyak penemuan teknologi baru.
"Namun, sekarang kan sudah mulai ada teknologinya, lebih murah. Jadi mungkin sekitar 4, 5, sampai 6 juta (target konversi per tahun). Jadi semakin ke sini semakin murah," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
BACA JUGA: Pembelaan Pemerintah soal Stok BBM RI Kalah dari Jepang
Terkait kemungkinan pemberian subsidi seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, Bahlil mengatakan pemerintah sedang menyiapkan formulasi yang tepat.
Ia menyampaikan skema dukungan masih akan dibahas lebih lanjut oleh satuan tugas (satgas) yang baru dibentuk untuk mempercepat implementasi energi bersih.
BACA JUGA: Soal Cadangan BBM Nasional Cukup Untuk 20 Hari, INDEF Bilang Begini
"Nanti kita cari formulasinya yang baik. Satgas kan baru diumumkan hari ini. Jadi habis ini kami akan melakukan kerja-kerja Satgas sehingga perencanaannya lebih-lebih betul-betul presisi," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil mengumumkan pemerintah akan membentuk satuan tugas (Satgas) transisi energi untuk mempercepat implementasi program, termasuk konversi motor konvensional menjadi listrik.
Satgas ini dibentuk untuk percepatan konversi dari kendaraan bermotor konvensional yang jumlahnya mencapai 120 juta motor menjadi motor listrik.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan implementasi program tersebut dapat berjalan maksimal dalam waktu tiga hingga empat tahun, bahkan diharapkan bisa terealisasi lebih cepat.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




