First Lady Irak Tolak Kurdi Jadi Pion AS-Israel Melawan Iran: Kami Bukan Sewaan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Masyarakat Kurdi yang tersebar di sejumlah kawasan menolak untuk diseret AS-Israel dalam perang melawan Iran. Salah satu penolakan datang dari First Lady Irak, Shanaz Ibrahim Ahmed.

“Biarkan orang Kurdi sendiri. Kami bukan senjata sewaan,” tegas Shanaz dalam pernyataan tertulis bertanggal 5 Maret 2026.

Sebelumnya, muncul kabar AS-Israel mendorong peran Kurdi dalam skenario anti-Iran. Bahkan disebut-sebut ribuan orang Kurdi Irak melewati jalur darat menuju Iran siap untuk bertempur.

Adapun Shanaz adalah istri Presiden Abdul Latif Rashid. Ibu Negara Irak ini dikenal sebagai aktivis Kurdi terkemuka dari keluarga politik Kurdi yang berpengaruh, terkait dengan Partai Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK).

Kurdi adalah kelompok etnis yang punya identitas budaya, bahasa, dan sejarah sendiri, tapi sampai sekarang belum punya negara merdeka yang diakui secara internasional.

Mereka termasuk rumpun bangsa Iran. Jumlah mereka sekitar 30–45 juta orang, tersebar di Timur Tengah dan diaspora di negara Barat.

Di Timteng, mereka menempati wilayah Kurdistan, daerah pegunungan historis yang mayoritas dihuni orang Kurdi.

Keberadaan mereka terbagi di empat negara utama tanpa status negara merdeka: Turki tenggara (Bakur, 14–15 juta orang), Iran barat laut (Rojhilat, 8–10 juta), Irak utara (Bashur, 5–7 juta, dengan otonomi tertinggi melalui Kurdistan Region Iraq), dan Suriah timur laut (Rojava, 2–3 juta).

Ada juga komunitas kecil di Armenia, Georgia, Lebanon, dan diaspora besar di Jerman (sekitar 850 ribu).

Menolak Jadi Proxy AS-Israel

Dalam pernyataannya, Shanaz menolak orang Kurdi (khususnya Kurdi Irak) dijadikan proxy atau pion oleh kekuatan besar, terutama AS dan Israel, dalam konflik perang melawan Iran.

Shanaz menekankan bahwa Kurdi sering "dikhianati" atau ditinggalkan setelah dimanfaatkan, seperti pada 1991 saat melawan Saddam Hussein dan saat melawan ISIS di Suriah.

Berikut pernyataan lengkap Shanaz:

Biarkan Orang Kurdi Sendiri. Kami Bukan Senjata Sewaan

Sulaymaniyah, Irak – Pada 1991, orang Kurdi bangkit melawan rezim Saddam Hussein, hanya untuk ditinggalkan ketika prioritas berubah.

Tak seorang pun datang membela kami ketika rezim mengerahkan helikopter tempur dan tank untuk menghancurkan pemberontakan.

Kenangan itu tetap hidup dan terukir dalam pikiran kami. Hari ini, kami memperingati bab itu sebagai "Raparin" dan kami tidak melupakan apa yang diajarkannya kepada kami.

Baru-baru ini, kami melihat apa yang terjadi di Timur Laut Suriah, atau Rojava. Setelah semua janji yang dibuat, setelah orang Kurdi Suriah berdiri di garis depan perang melawan ISIS, kami menyaksikan bagaimana mereka diperlakukan.

Hari ini, orang Kurdi Irak akhirnya merasakan stabilitas dan martabat dalam hidup. Karena itu, sangat sulit, bahkan mustahil, bagi orang Kurdi untuk menerima diperlakukan sebagai pion oleh kekuatan super dunia.

Pengalaman ada di sana. Janji-janji kosong ada di sana. Terlalu sering, orang Kurdi hanya dikenang ketika kekuatan atau pengorbanan mereka dibutuhkan.

Untuk alasan itu, saya memohon kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik ini: Biarkan orang Kurdi sendiri. Kami bukan senjata sewaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Prabowo Buka Puasa Bareng Ketum Muhammadiyah hingga Rais Aam PBNU
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Gunung Lewotobi Laki-Laki Kembali Erupsi Susulan
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Kakorlantas Pastikan Operasi Ketupat di Bali Lancar Meski Nyepi-Lebaran Berdekatan
• 12 jam laludetik.com
thumb
ART Buka Keran Impor, Indef Dorong Penguatan Daya Saing Hilirisasi Ayam Danantara
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Gila! Kevin Diks Bersinar di Bundesliga, Jalan Pemain Timnas Indonesia ke Jerman Mulai Terbuka?
• 12 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.