AS-Israel Agresi Iran, Muslim Indonesia Malah Terjebak “Kafirisiasi”

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Prof Barsihannor*

DEBAT soal Sunni-Syiah kembali riuh di media sosial. Sesuatu yang seharusnya menjadi artefak peradaban Islam.

Ketegangan antara Amerika-Israel vs Iran berujung dengan perang terbuka, saling menyerang dan mengancurkan. Korban berjatuhan, dan gedung-gedung pun hancur porak-poranda.

Konflik ini bukan hanya menjadi perhatian eksklusif kawasan Timur Tengah yang memang sejak lama menjadi episentrum ketegangan dunia, tetapi juga menyita perhatian masyarakat internasional secara luas. Tidak terkecuali umat Islam.

Ironisnya umat Islam  justru terbelah. Ada yang bersimpati dan mendukung Iran, juga ada yang mengharapkan kejatuhan Iran sebagai negara yang getol memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Bersamaan konflik Iran vs Israel-AS, perang narasi bermunculan di media sosial,   membuka kembali luka lama tentang sejarah konflik  Sunni-Syiah pada masa klasik. Suatu konflik yang  meninggalkan luka kolektif yang kemudian diwariskan secara turun-temurun pada lintas generasi.

Konflik yang bermula dari pertikaian politik antara Ali ra dan Muawiyah (keduanya adalah sahabat Nabi saw) bertransformasi menjadi pertentangan teologis. Saling  membenci, mencaci, bahkan membunuh  satu sama lain. Inilah persitiwa sejarah politik Islam yang paling tragis sepanjang masa.

Hari-hari ini, media sosial dibanjiri dengan narasi-narasi provokatif, menggantikan dialog yang semestinya membangun jembatan pemahaman. Fitnah, saling klaim kebenaran, bahkan fenomena “kafirisasi”  sedemikian masif bergerak di lini masa, tidak terkendali. Akibatnya, empati kemanusiaan ikut terkikis.  

Luka sejarah itu perlahan-lahan mengeras, membeku, dan bertransformasi menjadi identitas  yang dibangun di atas fondasi trauma sejarah. Realitas dunia Islam sering memperlihatkan potret yang retak. Umat yang memiliki kitab yang sama, Nabi yang sama, dan kiblat yang sama, sering terpecah oleh kepentingan politik, ideologi, mazhab, bahkan sentimen kebangsaan.

Jika kita mau jujur dan objektif, sebenarnya kesamaan antara Sunni dan Syiah jauh lebih besar dan fundamental daripada perbedaannya. Keduanya sama-sama berpegang tegung kepada rukun iman dan rukun Islam sebagai identitas keimanan dan keislaman.

Melalui dua kunjungan riset ke Iran, saya memperoleh pengalaman langsung yang membuka wawasan tentang kehidupan Muslim Syiah, bukan sekadar membaca buku-buku tentang Syiah. Dengan pendekatan emik, saya menyaksikan praktik keberagamaan yang autentik, tidak terdapat perbedaan yang terlalu fundamental dengan kehidupan keberagamaan masyarakat Sunni umumnya. 

Perbedaannya lebih pada aspek dharuriyah dan furuiyah, bukan pada ushuliyah. Tidak ada ajaran yang dapat membatalkan keislaman atau keimanan.  Esensi keimanan, ritual pokok, kitab suci dan kiblat yang sama, dan kecintaan kepada Rasulullah justru menjadi titik temu yang kokoh.

Kesadaran ini penting untuk merawat ukhuwah di tengah narasi perpecahan yang sering dibesar-besarkan. Lalu apakah perbedaan teologis yang bersifat cabang (furuiyah dan dharuriyah) itu harus sampai menghapus rasa kemanusiaan yang bersifat fitrah? Apakah tafsir sejarah yang berbeda, layak menjadi alasan untuk memutuskan tali persaudaraan iman yang telah dianyam oleh Rasulullah?

Perbedaan pada wilayah furuiyah dan dharuriyah—cabang dan teknis—yang lahir dari ijtihad sejarah dan konteks sosial-politik memang penting untuk kajian ilmiah, tetapi tidak layak dijadikan senjata pemutus ukhuwah.

Ketika wilayah cabang diangkat menjadi identitas utama, kita kehilangan gambaran utuh tentang Islam sebagai agama rahmatan lilalamin. Lebih jauh, kita mengalihkan energi dari agenda yang lebih mendesak, yaitu menyelamatkan martabat manusia.

Peristiwa-peristiwa global seharusnya menyadarkan kita bahwa musuh terbesar umat bukan hanya kekuatan eksternal, tetapi juga rapuhnya solidaritas internal. Jika hati kita saling curiga, maka persatuan hanya slogan. Jika ukhuwah hanya muncul di mimbar, tetapi hilang di media sosial, maka Ramadan belum benar-benar menembus jiwa.

Nurani Umat

Palestina adalah cermin tajam bagi nurani umat. Di sana, penderitaan tidak menanyakan mazhab. Peluru tidak memilah Sunni atau Syiah. Runtuhan tidak memilih mazhab fikih. Yang dibutuhkan adalah solidaritas, suara yang satu, langkah yang terkoordinasi, dan empati yang tulus.

Ketika umat terbelah oleh narasi sektarian, maka daya tekan moral melemah.   Mengedepankan kemanusiaan untuk menjaga martabat dan kehidupan umat Islam seperti di Gaza, Palestina adalah jalan merajut ukhuwah yang paling nyata. Ia menuntut kita menegasikan perbedaan yang tidak esensial demi nilai yang lebih tinggi.

Bukan berarti Islam menghapus diskursus teologis, melainkan menunda ego sektarian ketika nyawa manusia dipertaruhkan. Di sini, Islam hadir bukan sebagai identitas yang saling menegasi (menyingkirkan), tetapi sebagai etika yang mempersatukan.

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu yang telah terjadi, tetapi kita sepenuhnya bisa menentukan sikap masa kini dan pilihan untuk masa depan. Apakah kita akan mewariskan kebencian kepada generasi berikutnya, atau justru menyiapkan fondasi peradaban yang lebih kokoh dengan mengajarkan mereka untuk menghargai perbedaan sambil tetap menjaga persaudaraan? (*)

*Penulis merupakan Guru Besar Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar/Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan Israel Ungkap Netanyahu Sudah Putuskan untuk Bunuh Khamenei pada November 2025
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Perluas Cakupan Pasar, Bintang Toedjoe & Extrajoss Dukung Perayaan Cap Go Meh Singkawang
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Mensos: 67.886 Keluarga Sudah Diverifikasi untuk Dapat Bansos
• 17 jam lalukompas.com
thumb
CEO TelkomGroup Tinjau Kesiapan Infrastruktur dan Layanan Digital Jelang Lebaran
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Diskusi Buku Menggugat Republik di ITB yang Dihadiri Dasco Digeruduk Mahasiswa
• 12 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.