Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak mentah Amerika Serikat melonjak tajam pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya bergerak relatif tenang sehari sebelumnya. Minyak mentah AS tercatat naik lebih dari 8 persen dalam satu sesi perdagangan dan sempat menyentuh level sekitar 82 dolar AS per barel.
Lonjakan tersebut memperpanjang tren kenaikan harga minyak yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Jika dihitung sejak Minggu, harga minyak mentah AS telah meningkat sekitar 20 persen, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Sementara itu, harga minyak acuan internasional juga ikut menguat, meskipun kenaikannya lebih moderat yakni sekitar 4 persen.
Lonjakan harga energi tidak diikuti oleh kinerja positif di pasar saham. Bursa saham Amerika Serikat justru kembali mengalami tekanan setelah aksi jual yang terjadi sejak awal pekan.
Pada penutupan perdagangan:
-
S&P 500 turun sekitar 0,6 persen
-
Nasdaq Composite melemah 0,3 persen
-
Dow Jones Industrial Average sempat anjlok lebih dari 1.000 poin sebelum akhirnya ditutup turun 785 poin atau sekitar 1,6 persen
Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan kinerja positif di indeks S&P 500. Sebaliknya, sektor kebutuhan pokok, material, serta industri menjadi yang paling terpukul akibat tekanan pasar.
Harga BBM di AS Ikut MeroketLonjakan harga minyak juga mulai dirasakan langsung oleh konsumen di Amerika Serikat melalui kenaikan harga bahan bakar.
Data dari layanan pemantau harga GasBuddy menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin nasional kini mencapai sekitar 3,25 dolar AS per galon. Angka ini meningkat lebih dari 30 sen dibandingkan harga pada Minggu lalu.
Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terhadap potensi lonjakan inflasi di Amerika Serikat.
Imbas ke Suku Bunga dan Kredit RumahDampak dari kenaikan harga energi juga merembet ke pasar keuangan lainnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat seiring kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.




