PURWAKARTA, KOMPAS- Tabrakan beruntun melibatkan 10 kendaraan di Kilometer 93 B Tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (5/3/2026) malam. Data hingga Jumat (6/3/2026), tiga orang tewas dalam kecelakaan yang diduga dipicu rem truk kontainer bermasalah.
Tabrakan beruntun terjadi di KM 93 Tol Cipularang pukul 20.18 WIB. Kecelakaan terjadi di jalur satu arah Bandung menuju Jakarta, tepatnya di kawasan Sukatani, Purwakarta.
Kejadian ini mirip dengan kecelakaan lalu lintas di pintu keluar Tol Bawen, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2026), pukul 18.30 WIB. Sebuah truk boks menabrak delapan sepeda motor dan mobil. Delapan orang lantas dibawa ke rumah sakit.
Peristiwa di Cipularang bermula ketika salah satu truk mengalami ganggguan di lajur satu. Hal itu membuat kendaraan di belakangnya mengantri.
Akan tetapi, hal fatal lalu terjadi saat truk bernomor polisi B 9367 tiba di sekitar lokasi kemacetan. Pengemudi truk itu, MY, diduga tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Diduga dipicu rem blong, truk itu menabrak kendaraan pikap di depannya dan memicu tabrakan beruntun.
Akibat kejadian ini, tiga orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. Seluruh korban jiwa dan luka langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Abdul Radzak Purwakarta.
"Ketiga korban tewas adalah sopir dan penumpang mobil pikap. Mereka Eman Wahyudin (36), Wisnu Nugroho (31) dan Muhammad Reza (29)," kata Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Purwakarta Ajun Komisaris Enggar Jati Nugroho.
Ia menuturkan, diduga kuat truk kontainer yang dikemudikan MY mengalami rem blong. Hal inilah yang memicu truk menabrak sembilan kendaraan lainnya.
"Untuk penyidikan lebih lanjut, kami bersama Ditlantas Polda Jabar akan melakukan olah tempat kejadian perkara pagi ini," kata Enggar.
Senior Manager Representative Office 3 Jasamarga Metropolitan Tollroad Agni Mayvinna mengatakan, dua lajur jalan telah dapat dilintasi kembali oleh pengguna jalan Tol Cipularang pada pukul 21.43 WIB.
"Jasa Marga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami selama proses evakuasi berlangsung. Pastikan kendaraan dalam keadaan prima, menjaga jarak aman, dan mengatur kecepatan saat berkendara di jalan tol, " tutur Agni.
Kecelakaan angkutan logistik terus terjadi setiap tahun di Jabar. Salah satu pemicunya sistem pengereman kendaraan yang bermasalah.
Dari catatan Kompas dan data kepolisian di Jabar, 17 warga tewas di jalan akibat truk rem blong sepanjang tahun 2025. Kecelakaan terjadi di Bogor, Cianjur, Subang, Karawang, dan Bandung Barat.
Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, maraknya kejadian kecelakaan truk rem blong dipicu sejumlah faktor. Salah satunya, buruknya sistem angkutan logistik di Indonesia.
Ia mengungkapkan pengujian kendaraan bermotor atau KIR yang wajib dilakukan setiap enam bulan sering terlupakan pemilik truk. Sebab, belum ada sanksi tegas bagi pemilik kendaraan truk yang tidak melaksanakan uji KIR.
”Hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan di Indonesia yang melakukan uji KIR. Hal ini diperburuk minimnya kegiatan pengawasan di lapangan karena keterbatasan anggaran tahun ini,” ungkap Djoko.
Ia meminta tidak hanya sopir yang disalahkan sebagai penyebab kecelakaan. Sebab, proses hukum terhadap sopir dinilai tidak akan menyelesaikan masalah. Bos pemilik kendaraan atau logistik juga bisa dimintai pertanggungjawabannya.
Sementara Ahmad Wildan, Pelaksana Tugas Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan, terdapat dua kategori kecelakaan pada bus dan truk yang terjadi di Indonesia yang dipicu rem blong.
Pertama, kecelakaan rem blong yang selalu terjadi pada jalan menurun dan memiliki pola yang sama, yaitu pengemudi menggunakan gigi tinggi saat melalui jalan menurun dan melakukan pengereman berulang. Hal ini mengakibatkan rem tidak berfungsi, memindahkan gigi di jalan menurun.
"Saat rem tidak berfungsi sehingga menyebabkan gigi masuk ke posisi netral dan berakhir dengan tabrakan hebat. Sebab kecepatan kendaraan bisa mencapai 100 km per jam bahkan lebih karena melaju pada jalan menurun dalam posisi gigi netral, " paparnya.
Kategori Kedua, lanjutnya, kecelakaan rem blong yang dipicu rem tidak berfungsi karena mengalami malfunction pada sistem rem. Hal ini disebabkan pengemudi tidak melakukan pemeriksaan kendaraan sebelum beroperasi.
Ia mengimbau pengemudi harus mengecek kondisi kendaraan sebelum berangkat. Misalnya, memeriksa kelayakan spion dan sabuk pengaman, kondisi ban dan tekanan anginnya, lampu, hingga dan wiper.
”Pengecekan lainnya adalah pemeriksaan level minyak rem dan mengecek adanya kemungkinan kebocoran minyak rem pada bagian roda, memeriksa kandungan air dalam minyak rem untuk menghindari angin palsu (vapour lock), ganti minyak rem secara berkala, memeriksa tromol, celah dan ketebalan kampas rem,” katanya.





