Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.920 pada hari ini, Jumat (6/3/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau bergerak di zona merah.
Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05, rupiah dibuka turun sebesar 15 basis point atau 0,09% menuju level Rp16.920 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,36% ke posisi 98,95.
Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia lainnya yang ikut mengalami pelemahan adalah dolar Hong Kong sebesar 0,03%, lalu Peso Filipina terdepresiasi sebesar 0,43%, serta ringgit Malaysia melemah sebesar 0,16%.
Sebaliknya, yen Jepang menguat terhadap dolar AS sebesar 0,06%, dolar Singapura terpantau turut menguat 0,14%. Senasib, won Korea menguat 0,39%, diikuti rupee India terapresiasi sebesar 0,59%. Yuan China naik sebesar 0,07%, serta baht Thailand ikut menghijau 0,04%.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada Kamis (6/3/2026), rupiah masih bergerak fluktuatif dan cenderung melemah terbatas dalam rentang Rp16.900–Rp16.940 per dolar AS.
Eskalasi konflik terjadi di tengah dinamika politik Iran setelah putra pemimpin tertinggi Iran yang tewas muncul sebagai kandidat kuat pengganti. Situasi ini menandakan Teheran tidak akan menyerah pada tekanan, lima hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer yang menewaskan ratusan orang serta mengguncang pasar global.
Dari Amerika Serikat, Presiden Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya. Langkah ini dinilai pasar berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga.
Sementara itu di Asia, China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 4,5%–5%, sedikit lebih rendah dari realisasi sekitar 5% pada tahun lalu. Target tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk melakukan penyesuaian struktural, termasuk mengatasi kelebihan kapasitas industri.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia merespons keputusan Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan outlook negatif. Bank Indonesia menilai afirmasi rating tersebut tetap mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7% dan diperkirakan meningkat pada 2027, dengan inflasi tetap terkendali sesuai target.





