IHSG Dibuka Melemah, Konflik Iran-AS Picu Ketidakpastian Arah Suku Bunga The Fed

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

 

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Jumat (6/3) dengan pergerakan melemah. Tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG turun 11,07 poin atau sekitar 0,14% ke level 7.699,47. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 1,61 poin atau 0,20% menjadi 786,21.

Baca juga : IHSG Berpotensi Volatile Pekan Ini, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global Jadi Sentimen Utama

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai peluang penguatan pasar dalam jangka pendek masih terbatas.

"Kiwoom Research perkirakan technical rebound yang terjadi kemarin tidak akan berumur panjang, secara teknikal persis di gerbang resistance kritikal 7.712-7.720. Para investor disarankan untuk masih perbesar posisi cash di penghujung pekan ini untuk antisipasi high volatility during weekend," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Konflik Iran-AS Tingkatkan Risiko Global

Dari sisi global, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah berlangsung selama enam hari. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait potensi lonjakan inflasi energi serta arah kebijakan moneter The Fed.

Baca juga : IHSG Melonjak Tinggi, Investor Mulai Borong Saham Murah

Bank sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret 2026 untuk menentukan kebijakan suku bunga acuan berikutnya.

"Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang 2026, turun dari sekitar 50 bps sebelum konflik dimulai," ujar Liza.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, sementara pesawat tempur AS dan Israel melakukan serangan terhadap sejumlah target di Iran.

Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta masuknya drone Iran ke wilayah Azerbaijan meningkatkan risiko konflik meluas ke negara-negara produsen energi lainnya.

Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat ingin ikut berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.

IMF: Konflik Berpotensi Tekan Ekonomi Global

Dana Moneter Internasional (IMF) turut memperingatkan bahwa konflik geopolitik ini berpotensi menguji ketahanan ekonomi global. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak dunia. Minyak Brent tercatat naik 4,93% menjadi US$85,41 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,51% ke level US$81,01 per barel.

Perlambatan Ekonomi China Berpotensi Tekan Indonesia

Dari dalam negeri, risiko eksternal juga datang dari perlambatan ekonomi Tiongkok. Dalam forum Two Sessions disebutkan bahwa perlambatan tersebut dapat berdampak pada ekonomi Indonesia.

China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dengan kontribusi sekitar 24% dari total ekspor nonmigas nasional pada 2025 yang nilainya mencapai sekitar US$64,82 miliar.

Apabila aktivitas industri di Tiongkok menurun, permintaan terhadap komoditas dan bahan baku dari Indonesia juga berpotensi ikut melemah.

Dampaknya tidak hanya pada sektor perdagangan, tetapi juga pada investasi. Tiongkok tercatat sebagai salah satu investor utama di Indonesia dengan realisasi investasi sekitar US$7,5 miliar pada 2025.

Secara historis, setiap perlambatan ekonomi Tiongkok sebesar 1% dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga sekitar 0,3%.

Bursa Global Kompak Melemah

Pada perdagangan Kamis (5/3), mayoritas bursa saham Eropa mengalami penurunan. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,46%, FTSE 100 Inggris melemah 1,45%, DAX Jerman terkoreksi 1,61 persen, dan CAC Prancis turun 1,49 persen.

Pasar saham Amerika Serikat di Wall Street juga berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,61% ke level 47.954,74. Indeks S&P 500 melemah 0,56% menjadi 6.830,71, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,26% ke posisi 22.748,99.

Sementara itu, bursa saham Asia pada perdagangan pagi menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei menguat 80,59 poin atau 0,15% ke 55.358,69. Indeks Hang Seng naik 263,59 poin atau 1,04% ke 25.584,93. Indeks Shanghai naik tipis 0,33 poin atau 0,01% ke 4.108,90, sedangkan indeks Strait Times turun 17,90 poin atau 0,37% menjadi 4.828,66. (Ant/E-4)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ikutan kumparan On The Road Spesial Ramadan, Riding Bareng Ayah dan Anak!
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenag Beberkan 5 Arah Kebijakan untuk Akselerasi Mutu PTKI
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemerintah Masih Bahas Mekanisme Prabowo Jadi Mediator Iran vs AS
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Detail Gaun Pengantin Alexandra Saint Mleux
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Daftar Cadangan Energi di Negara-negara Asia, Jepang 254 Hari hingga Indonesia 23 Hari
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.