Suara.com - Sekelompok warga di Teheran mengaku mulai menimbun barang kebutuhan pokok seiring dengan meningkatnya ketidakpastian mengenai berapa lama gempuran AS-Israel akan berlangsung.
Kepada BBC Persia, warga di sana merasa khawatir terjadi kelangkaan stok bahan makanan dan harga yang terus meningkat, di tengah suara ledakan yang terus terdengar di penjuru kota.
"Kami harus menyetok barang kebutuhan karena kami tidak tahu berapa lama ini [serangan] akan berlangsung," kata salah satu penduduk Teheran, Nasrin.
Dia menambahkan, "Kami khawatir akan kehabisan kebutuhan pokok jika tidak bersiap dari sekarang."
Harga-harga barang di Iran telah melambung tinggi sebelum serangan AS dan Israel.
Tekanan biaya hidup dan sanksi-sanksi internasional memicu protes nasional pada Desember lalu, yang disikapi dengan tindakan represif yang brutal oleh rezim Republik Islam. Dilaporkan ribuan orang demonstran menjadi korban.
Serangan AS dan Israel dalam beberapa hari belakangan telah memperburuk situasi kehidupan warga di Iran.
Hal itu diungkapkan oleh beberapa warga yang dapat mengakses koneksi internet di tengah pemblokiran yang dilakukan pemerintah, ke BBC Persia.
Organisasi-organisasi pemberitaan internasional seringkali ditolak visa mereka oleh Iran. Hal itu membatasi kemampuan mereka untuk mengakses informasi tentang apa yang terjadi di dalam Iran.
Baca Juga: Di Tengah Panasnya Isu Perang, Lionel Messi Sambangi Donald Trump di Gedung Putih
Pemblokiran akses internet membuat pelaporan menjadi semakin sulit.
Mungkin Anda tertarik:
- Apa tujuan AS-Israel menyerang Iran?
- Apakah negara-negara Teluk akan membalas serangan Iran dan bakal terseret dalam perang?
- Apa yang terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak global?
Seorang warga di Teheran, bernama Pouyo, berkata harga-harga kebutuhan pokok telah melonjak tajam, sejak gempuran AS-Israel dimulai pada Sabtu (28/02) lalu.
"Saya baru saja mengecek [harga], beras sekarang 625 toman [sekitar Rp2.500], padahal sebelum perang 530 toman [Rp2.120]," katanya.
Pria itu menambahkan bahan pokok yang paling berdampak kenaikan harga adalah kentang.
Kantor berita pemerintah Iran telah melaporkan bahwa "sejalan dengan keputusan pemerintah untuk memprioritaskan penyediaan kebutuhan pokok", ekspor seluruh produk pangan dan pertanian telah dilarang "hingga pengumuman lebih lanjut".
Harga paket kuota internet juga meroket tajam, menurut Shayan, warga dari Kota Karaj, yang berjarak sekitar satu jam berkendara dari Teheran.
"Sangat sulit sekarang untuk terhubung ke internet," kata Shayan, sambil menambahkan harga paket internet Starlink milik Elon Musk telah naik secara "luar biasa".
Omid, pemuda berusia 26 tahun di Teheran berkata, "Masyarakat kini mulai merasa tidak tenang, berapa lama situasi ini akan berlarut-larut."
Omid menambahkan awalnya dia berasumsi bahwa AS dan Israel hanya akan menargetkan orang-orang tertentu, seperti Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada Sabtu (28/02). Setelah itu dia mengira serangan "seharusnya sudah berakhir sekarang".
Namun dia bilang dirinya telah mendengar banyak ledakan di penjuru kota hingga Selasa (03/03) siang. Rangkaian serangan lanjutan itu membuat Omid memutuskan untuk menimbun kebutuhan pokok.
Meski begitu, tidak semua toko tetap buka, kata Omid.
"Kehadiran pasukan keamanan di jalanan lebih ketat, tapi jalanannya sendiri kosong," katanya.
"Beberapa toko tutup, terutama yang berada di dekat area terdampak."
- Ormas-ormas keagamaan di Indonesia kompak kecam serangan AS-Israel ke Iran
- Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan AS dan Israel
- AS-Israel serang Iran, di mana Rusia dan China?
Warga lain melaporkan bahwa mereka mendengar dan menyaksikan rangkaian ledakan di ibu kota pada Senin (02/03) dan Selasa (03/03) lalu.
Maryam berkata, dia berada di dekat area yang dihantam rudal pada Senin (02/03) malam.
"Serangan semalam sangat mengerikan," tulisnya melalui pesan singkat. "Rumah kami sampai bergetar."
Beberapa warga memutuskan untuk melarikan diri dari Teheran, namun Maryam berniat tetap tinggal.
"Beberapa orang sudah meninggalkan Teheran, tapi kami tetap di rumah," katanya.
"Jika kami tidak terbunuh, kami akan tetap di sini selama ada seruan protes di jalanan, dan saya akan keluar bersama keluarga untuk bergabung."
"Saya sangat senang para pejabat ini ditargetkan. Kami akan bertahan menghadapi serangan ini sampai mereka semua pergi."
Organisasi kemanusiaan nonpemerintah, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan, sekitar 787 orang telah tewas di Iran sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke negara itu pada 28 Februari.
Gejolak besar masih terjadi. Militer Israel menyatakan telah menyerang kantor kepresidenan Iran pada Selasa, serta target infrastruktur lainnya.
Video yang diverifikasi oleh BBC juga menunjukkan ledakan di Pardis, sebelah timur ibu kota.
Sebagai balasan, Iran telah melakukan serangan rudal dan drone besar-besaran yang menargetkan objek-objek militer dan pemerintah Israel di Tel Aviv dan lokasi lainnya.
Serangan juga dilaporkan terjadi di negara-negara yang menampung pangkalan militer ASQatar, Bahrain, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwaitserta Oman dan Arab Saudi yang merupakan sekutu AS.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran dituduh memperluas serangannya ke target lain, termasuk jalur pelayaran, objek sipilseperti hotel di Dubaidan kedutaan besar AS di Riyadh, Arab Saudi.
- 'Korban pertama perang ini adalah 40 anak di Minab' Respons warga Iran atas serangan AS-Israel
- 'Ini bukan Dubai yang kami kenal' Kesaksian warga dan para turis saat Iran menyerang Uni Emirat Arab
- Presiden Prabowo tawarkan jadi juru runding konflik AS-Israel dengan Iran 'Sangat tidak realistis'
- Ayatollah Ali Khamenei wafat, siapa penerusnya dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?




