CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Iran membantah klaim bahwa Teheran menutup Selat Hormuz.
Iran menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan justru menilai Amerika Serikat telah membahayakan keamanan pelayaran di kawasan.
"Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal," tulis misi Iran melalui platform media sosial X.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen terhadap hukum internasional serta kebebasan navigasi di perairan internasional.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan kekhawatiran soal penutupan Selat Hormuz seharusnya diarahkan kepada Amerika Serikat yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di selat Hormuz,” kata Boroujerdi saat ditemui media di Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka. Iran hanya menerapkan protokol lalu lintas khusus selama masa perang untuk menjaga keamanan pelayaran.
"Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormoz tetap terbuka. Dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan. Di selat ini hanya memperlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati selat Hormuz," ujarnya.
Boroujerdi juga menegaskan bahwa Iran telah menjaga keamanan Selat Hormuz selama ratusan tahun dan akan terus melakukannya demi stabilitas kawasan.
Selain membantah penutulan selat Hormuz, Iran juga menuduh Amerika Serikat melakukan tindakan militer yang membahayakan. Menurut pernyataan tersebut, fregat Dena milik angkatan laut Iran yang membawa 130 pelaut dihantam kapal selam AS tanpa peringatan saat berada di perairan internasional, sekitar 2.000 mil dari pantai Iran.
Kapal tersebut diketahui baru saja menyelesaikan kunjungan angkatan laut ke India dan tengah dalam perjalanan pulang setelah mengikuti latihan militer di lepas pantai India bulan lalu.
"Serangan sembrono ini melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional dan kebebasan navigasi," bunyi pernyataan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan serangan itu terjadi pada Rabu di perairan Samudra Hindia, tepatnya di lepas pantai Sri Lanka.
Insiden tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 100 pelaut, sementara 32 lainnya mengalami luka dan sejumlah awak masih dinyatakan hilang.
Serangan terhadap kapal perang Iran terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sejak Sabtu lalu. Serangan militer yang terjadi dilaporkan menewaskan sedikitnya 926 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan laut lepas. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati jalur tersebut.
Namun media Iran sebelumnya melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran menutup jalur tersebut bagi lalu lintas kapal karena situasi keamanan yang memburuk akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.
Sejak kabar penutupan beredar, harga minyak di pasar Asia dilaporkan naik sekitar 13 persen hingga mencapai 80 dolar AS per barel. Harga tersebut bahkan berpotensi menembus 100 dolar AS per barel jika situasi berlarut.
Situasi ini juga berdampak pada dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini masih berada di kawasan Teluk.
Sumber: Anadolu-Antara




