KOMPAS.com - Di balik kisah inspiratif pekerja disabilitas yang belakangan ini viral, data menunjukkan realitas dunia kerja Indonesia masih jauh dari inklusif dan belum ramah bagi tenaga kerja disabilitas.
Ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang ke sebuah toko pakaian di Mal Bandung Indah Plaza (BIP), Kota Bandung, Rabu (4/3/2026), suasana toko itu mendadak ramai.
Ia tidak datang untuk acara resmi pemerintah, melainkan menepati janji sederhana, yakni berbelanja di tempat kerja Hasni Alifah Salsabila.
Hasni adalah perempuan tuna rungu berusia 21 tahun yang bekerja sebagai pegawai di department store Matahari di BIP.
Bersama saudara kembarnya, Hasna Alifah Salsabila yang juga penyandang disabilitas, kisah mereka sempat viral di media sosial karena keduanya tetap bekerja meski memiliki keterbatasan pendengaran.
Kisah Hasni dan Hasna bukan satu-satunya cerita tentang penyandang disabilitas yang mendapat kesempatan kerja.
Zidan kini bekerja sebagai desainer grafis di Divisi Sumber Daya Manusia Transjakarta.
Menurut Departemen Humas dan CSR PT Transjakarta, Ayu Wardhani, pekerjaan tersebut diberikan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki Zidan.
Baca juga: 800.000 Pekerja Disebut Berpotensi Terdampak Perda Kawasan Tanpa Rokok
Sedikit yang Beruntung, Masih Banyak yang BerjuangHasni, Hasna, maupun Zidan, hanya segelitir penyandang disabilitas di Indoensia yang beruntung mendapatkan pekerjaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Indikator Pekerjaan Layak di Indonesia 2024 menunjukkan jumlah pekerja penyandang disabilitas masih sangat kecil dibanding total tenaga kerja nasional.
Meski terjadi peningkatan dibanding 2023 yang berada di angka 0,55 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Pada 2024, pekerja disabilitas hanya sekitar 0,64 persen dari total tenaga kerja nasional, atau sekitar 932.435 orang dari lebih dari 140 juta tenaga kerja di Indonesia.
BPS mencatat terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia pada 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta berada pada usia produktif.
Namun hanya sekitar 45 persen yang bekerja, dan sebagian besar terserap di sektor informal.
Bahkan, data International Labour Organization (ILO) menunjukkan hampir 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia belum bekerja atau masih mencari pekerjaan hingga akhir 2024.
Baca juga: Ngantor di Kafe Jadi Rutinitas, Pekerja Urban Rela Rogoh Rp 1 Juta per Bulan
Mayoritas Bekerja di sektor informalRendahnya penyerapan pekerja disabilitas di perusahaan formal juga terlihat dari jenis pekerjaan yang mereka jalani.
Menurut data BPS, sekitar 83 persen pekerja disabilitas bekerja di sektor informal, seperti usaha kecil, pekerja keluarga, atau bekerja mandiri.





