JAKARTA, KOMPAS.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan kubu Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim beradu narasi ketika empat orang saksi mahkota dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook dihadirkan.
Duduk sebagai saksi adalah Eks Konsultan Teknologi di lingkungan Kemendikbudristek, Ibrahim Arief; Direktur SMP Kemendikbudristek tahun 2020–2021 sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Mulyatsyah; dan Direktur SD Kemendikbudristek tahun 2020–2021 sekaligus KPA, Sri Wahyuningsih.
Serta, Eks Staf Khusus Menteri, Fiona Handayani.
JPU mendalami relasi antara pejabat kementerian, Sri dan Mulyatsyah, dengan staf khusus Nadiem, Fiona.
Baca juga: Sidang Nadiem, Saksi Ungkap Dirjen hingga Menteri Tak Bisa Intervensi Harga Pengadaan
Pertanyaan hari ini merupakan pengulangan dari narasi sebelumnya, yaitu kewenangan Staf Khusus Nadiem yang dianggap berlebihan.
Kadang-kadang, sidang membahas soal Fiona dan staf khusus lainnya, Jurist Tan yang punya kewenangan luas, bahkan setara menteri.
“Saya mau tanyakan kepada dua saksi ini. Apakah keberadaan Fiona sebagai Staf Khusus Menteri, kalian takut atau menyebalkan atau apa keberadaan dia di situ?” tanya salah satu jaksa kepada Mulyatsyah dan Sri, dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Mulyatsyah yang duduk tidak jauh dari Fiona menyampaikan pendapatnya.
“Pada saat saya masih menjabat, penilaian saya adalah terlalu terlalu over confident di dalam memimpin rapat-rapat,” kata Mul.
Menurut dia, staf khusus menteri hanya bertanggung jawab pada menteri.
Tugasnya sebatas memberi saran, tidak sampai aktif memimpin rapat dan menanyakan hal-hal operasional kepada para pejabat kementerian.
Saat ditanyakan hal yang sama oleh jaksa, Sri mengatakan, banyak pejabat yang kelimpungan menghadapi Jurist dan Fiona.
Baca juga: Nadiem Tanya ke Fiona dan Ibrahim di Sidang: Adakah Desakan dari Saya untuk Pilih Chromebook?
“Ya, sama dengan Pak Mulyatsyah, kalau level eselon 1 saja kelimpungan menghadapi Bu Fiona,” kata Sri.
Sri mengatakan, pejabat eselon 2 sepertinya tidak bisa berbuat banyak menghadapi staf khusus Nadiem.