FAJAR, WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan kode kuat akan menyerang Kuba setelah konflik Iran usai. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan saat menyambut Lionel Messi dan klub Inter Miami di Gedung Putih.
Trump menyebut pembebasan Kuba hanya tinggal menunggu waktu setelah sukses di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Marco Rubio pun mendapat pujian khusus atas perannya dalam kebijakan luar negeri ini.
Pernyataan Trump kembali memicu spekulasi panas mengenai arah kebijakan luar negerinya. Di sela-sela penyambutan klub Inter Miami CF sebagai juara Major League Soccer 2025, Trump mengisyaratkan bahwa Kuba berada dalam daftar target berikutnya.
Kehadiran bintang dunia Lionel Messi di Gedung Putih pada Jumat (6/3/2026) menjadi saksi pernyataan provokatif Trump. Di tengah blokade energi yang menghantam negara Karibia tersebut, Trump menegaskan bahwa persoalan Kuba sedang menjadi perhatian serius pemerintahannya.
“Apa yang terjadi di Kuba sungguh luar biasa. Kami berencana menyelesaikan urusan di Iran terlebih dahulu sebelum beralih ke sana,” ujar Trump tegas di hadapan para pemain sepak bola.
Trump juga memberikan harapan bagi warga keturunan Kuba di AS untuk segera kembali ke tanah air mereka. Ia meyakini bahwa perubahan rezim di Havana hanya tinggal menunggu waktu.
Pujian untuk Marco Rubio
Dalam pidatonya, Trump tidak lupa memberikan apresiasi kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Sebagai politikus keturunan imigran Kuba, Rubio dianggap sukses menjalankan strategi tekanan terhadap pemerintahan komunis di sana.
“Anda telah melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk tempat bernama Kuba,” puji Trump yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Pernyataan ini muncul hanya kurang dari seminggu setelah eskalasi militer di Timur Tengah, di mana Trump mengeklaim pasukan AS dan Israel telah berhasil memukul mundur musuh sepenuhnya.
Fokus ke arah Karibia dianggap sebagai langkah strategis berikutnya untuk menghapus pengaruh kediktatoran di belahan bumi barat.
Prediksi Kejatuhan Rezim Komunis
Sinyal “serangan” ke Kuba sebenarnya sudah diperkuat oleh pernyataan Senator Republik, Lindsey Graham. Dalam wawancara dengan Fox News, Graham secara blak-blakan menyebut bahwa hari-hari kediktatoran komunis di Kuba sudah dihitung.
Strategi Trump untuk melumpuhkan Kuba melibatkan isolasi total, termasuk memutus pasokan minyak dan aliran dana dari Venezuela. Trump mengeklaim taktik ini akan memaksa pemerintah Kuba untuk menyerah dan masuk ke meja perundingan.
“Kami memutus segalanya, mulai dari minyak hingga uang. Sekarang, mereka mulai ingin membuat kesepakatan,” pungkas Trump dalam wawancara sebelumnya dengan Politico. (*)





