Konflik AS-Israel dan Iran, PP HIMMAH Minta Pemerintah Kencangkan Hilirisasi Minyak Mentah

jpnn.com
14 jam lalu
Cover Berita

jakarta.jpnn.com - Ketua Umum PP HIMMAH Abdul Razak Nasution meminta pemerintah mempercepat program hilirisasi agar Indonesia tidak bergantung pada impor minyak di tengah konflik Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. 

Abdul Razak mengatakan Indonesia tidak perlu bergantung impor jika sudah bisa mandiri dan memproduksi minyak sendiri.

BACA JUGA: Menlu Sugiono Tegaskan Presiden Prabowo Ingin Jadi Penengah Konflik Timur Tengah

Dia mengatakan semua umat Islam di Indonesia saat ini sedang berfokus merayakan Ramadan.

"Jangan lagi sampai dibuat pusing dampak dari konflik AS-Israel dan Iran ini bisa berakibat harga-harga kebutuhan pokok atau BBM naik," kata Abdul Razak, Jumat (6/3).

BACA JUGA: PP HIMMAH Dukung Prabowo-Gibran Berantas Oligarki, Jaga Kedaulatan NKRI

Menurut Abdul Razak, Presiden Prabowo Subianto sudah memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk membangun (storage) minyak mentah di Sumatera yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional.

“Kita perlu mempercepat hilirisasi agar negara kita bisa mandiri mengolah minyak mentah (crude oil) sendiri dan tak bergantung kepada impor minyak," kata Abdul Razak. 

BACA JUGA: PP HIMMAH: Kapolri Layak Dapat Bintang Mahaputra dari Presiden Prabowo

Dia menambahkan saat ini Selat Hormuz telah ditutup Iran. Sekitar seperlima dari total minyak mentah dunia melewati jalur ini yang tercatat memiliki peredaran hingga 20,1 juta barel per hari (bph).

"Jangan sampai Amerika Serikat menekan harga minyak yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia. Sebab, Indonesia resmi impor minyak dari Amerika pengganti impor minyak dari Timur Tengah," terangnya.

Razak menjelaskan, saat konflik meningkat, perusahaan pelayaran dan perdagangan energi biasanya langsung menaikkan premi risiko atau bahkan menunda pengiriman. 

Artinya, tanpa penutupan resmi pun harga sudah terdorong naik hanya karena faktor ketidakpastian.

"Harga minyak yang naik pasti berefek domino ke seluruh ekonomi. Minyak bukan sekadar energi, melainkan bahan baku dan input utama bagi banyak sektor yakni transportasi, industri, petrokimia, hingga produksi pangan,” kata Razak.

Abdul Razak mengatakan Indonesia memiliki sumber daya energi sendiri, tetapi tetap merupakan negara yang bergantung pada impor minyak mentah dan LPG. 

“Ketika harga minyak internasional meningkat, ada beberapa dampak langsung dan tidak langsung yang akan dirasakan ekonomi negara kita, khususnya harga-harga kebutuhan pokok yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia,” tutur Razak. (*)


Redaktur & Reporter : Ragil


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Publik Diajak Memahami Konsep Ekonomi yang Diterapkan Presiden Prabowo
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Peringatan Dini BMKG Jabodetabek 7 8 Maret 2026: Sejumlah Wilayah Jakarta Siaga Hujan Lebat
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
2 Bos Astra International (ASII) Borong Saham di Kisaran Harga Rp6.547
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Berdampingan dengan Bencana Alam, Ketangguhan Tak Boleh Musiman
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Menaker Tinjau Posko THR dan BHR Keagamaan 2026, Pastikan Hak Pekerja Terlindungi Jelang Lebaran
• 18 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.