jakarta.jpnn.com - Ketua Umum PP HIMMAH Abdul Razak Nasution meminta pemerintah mempercepat program hilirisasi agar Indonesia tidak bergantung pada impor minyak di tengah konflik Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.
Abdul Razak mengatakan Indonesia tidak perlu bergantung impor jika sudah bisa mandiri dan memproduksi minyak sendiri.
BACA JUGA: Menlu Sugiono Tegaskan Presiden Prabowo Ingin Jadi Penengah Konflik Timur Tengah
Dia mengatakan semua umat Islam di Indonesia saat ini sedang berfokus merayakan Ramadan.
"Jangan lagi sampai dibuat pusing dampak dari konflik AS-Israel dan Iran ini bisa berakibat harga-harga kebutuhan pokok atau BBM naik," kata Abdul Razak, Jumat (6/3).
BACA JUGA: PP HIMMAH Dukung Prabowo-Gibran Berantas Oligarki, Jaga Kedaulatan NKRI
Menurut Abdul Razak, Presiden Prabowo Subianto sudah memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk membangun (storage) minyak mentah di Sumatera yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional.
“Kita perlu mempercepat hilirisasi agar negara kita bisa mandiri mengolah minyak mentah (crude oil) sendiri dan tak bergantung kepada impor minyak," kata Abdul Razak.
BACA JUGA: PP HIMMAH: Kapolri Layak Dapat Bintang Mahaputra dari Presiden Prabowo
Dia menambahkan saat ini Selat Hormuz telah ditutup Iran. Sekitar seperlima dari total minyak mentah dunia melewati jalur ini yang tercatat memiliki peredaran hingga 20,1 juta barel per hari (bph).
"Jangan sampai Amerika Serikat menekan harga minyak yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia. Sebab, Indonesia resmi impor minyak dari Amerika pengganti impor minyak dari Timur Tengah," terangnya.
Razak menjelaskan, saat konflik meningkat, perusahaan pelayaran dan perdagangan energi biasanya langsung menaikkan premi risiko atau bahkan menunda pengiriman.
Artinya, tanpa penutupan resmi pun harga sudah terdorong naik hanya karena faktor ketidakpastian.
"Harga minyak yang naik pasti berefek domino ke seluruh ekonomi. Minyak bukan sekadar energi, melainkan bahan baku dan input utama bagi banyak sektor yakni transportasi, industri, petrokimia, hingga produksi pangan,” kata Razak.
Abdul Razak mengatakan Indonesia memiliki sumber daya energi sendiri, tetapi tetap merupakan negara yang bergantung pada impor minyak mentah dan LPG.
“Ketika harga minyak internasional meningkat, ada beberapa dampak langsung dan tidak langsung yang akan dirasakan ekonomi negara kita, khususnya harga-harga kebutuhan pokok yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia,” tutur Razak. (*)
Redaktur & Reporter : Ragil




