Perang Pakistan–Afghanistan yang "Terabaikan" di Bayang-Bayang Perang Iran

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Di tengah sorotan dunia yang tertuju pada konflik besar di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel vs Iran, terdapat perang lain yang sebenarnya terjadi tidak jauh dari wilayah Iran.

Banyak pihak yang lupa, mengingat perang ini seakan tenggelam dari pemberitaan global: konflik bersenjata yang semakin memanas di perbatasan Pakistan–Afghanistan.

Reuters melaporkan bahwa selama lebih dari seminggu, tembakan artileri dan ledakan terdengar di sepanjang garis perbatasan, Durand Line—garis batas sepanjang lebih dari 2.600 km yang memisahkan keduanya—yang memicu gelombang pengungsian massal dan krisis kemanusiaan.

Menurut laporan terbaru Al Jazeera pada 4 Maret 2026, hampir 66.000 warga Afghanistan terpaksa mengungsi akibat pertempuran sengit di wilayah perbatasan timur negara itu.

Akar konflik sendiri bukan hal baru. Pakistan berulang kali menuduh Kabul memberi ruang bagi kelompok insurgency militan, seperti Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), untuk beroperasi dari wilayah Afghanistan—tuduhan yang dibantah oleh otoritas Taliban.

The Guardian melaporkan bahwa Islamabad bahkan menyebut situasi ini sebagai bentuk “perang terbuka” setelah serangan lintas batas meningkat.

Konflik terbaru pecah setelah serangkaian serangan udara Pakistan di wilayah timur Afghanistan pada akhir Februari 2026, yang menurut Islamabad menargetkan basis kelompok militan yang melakukan serangan lintas batas.

Celakanya, korban serangan juga terdiri dari warga sipil. Data dari United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) menunjukkan bahwa selain korban yang terpaksa mengungsi, angka korban sipil juga tinggi: lebih dari 42 tewas dan 104 luka akibat tembakan artileri lintas batas dan serangan udara dalam beberapa hari pertama konflik.

Aksi balasan oleh pasukan keamanan Afghanistan dan kelompok bersenjata yang terafiliasi—termasuk operasi militer terhadap pos-pos Pakistan—memperburuk situasi.

Dalam beberapa hari, kedua sisi saling mengeklaim akan menghancurkan fasilitas dan merebut kontrol wilayah, meski angka klaim korban dari kedua kubu masih belum bisa diverifikasi secara independen.

Krisis Kemanusiaan yang Meningkat

Bagi warga sipil, perang ini bukan sekadar data statistik. Warga Afghanistan telah mengungsi dari rumah mereka akibat pertempuran di wilayah timur dan tenggara negara itu, termasuk di provinsi Nangarhar dan Paktika.

Mereka meninggalkan kampung halaman menuju tempat penampungan darurat untuk menghindari bom, tembakan, dan kehancuran infrastruktur kritis.

UN International Organization for Migration menegaskan bahwa kekerasan ini “memperburuk kerentanan komunitas yang sudah overstretched dan kekurangan sumber daya,” serta bisa memicu perpindahan tambahan dan memperlambat bantuan kemanusiaan yang pagi ini sudah sangat terhambat.

Dengan konflik besar yang melibatkan kekuatan global di Iran yang terus memunculkan liputan sepanjang hari di media internasional, drama kemanusiaan di perbatasan Pakistan–Afghanistan cenderung tersapu ke pinggiran berita.

Peperangan besar yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan potensi keterlibatan negara-negara lain—yang mengguncang pasar energi global—menarik perhatian media besar, sementara tensi regional di Asia Selatan hanya sesekali dibahas.

Namun, krisis di perbatasan Pakistan–Afghanistan memiliki dampak yang nyata dan mendalam: jutaan penduduk sipil terancam kelaparan, kehilangan rumah, akses kesehatan, dan pendidikan mereka terputus di tengah pertempuran sengit.

Selain mengakibatkan pengungsian massal, perang ini juga memengaruhi lembaga bantuan internasional. World Food Programme (WFP) telah terpaksa menangguhkan bantuan darurat di wilayah terdampak, yang sebelumnya sudah menghadapi krisis pangan parah akibat gagal panen dan ketidakstabilan ekonomi berkepanjangan.

Hingga sekitar 160.000 orang saat ini kehilangan akses terhadap distribusi makanan darurat mereka. Kondisi ini menambah tekanan bagi proses distribusi bantuan di tengah bentrokan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Perluasan Konflik dan Risiko Regional

Peperangan ini juga memengaruhi hubungan bilateral dan stabilitas kawasan yang lebih luas. Islamabad telah menyatakan dirinya dalam “perang terbuka” terhadap Afghanistan, menuntut pemutusan hubungan militan lintas batas dan langkah konkret dari pemerintah Afghanistan.

Sementara itu, Taliban melaporkan operasi mereka dalam menembak jatuh drone militer Pakistan dan merebut beberapa pos perbatasan sebagai balasan, seperti dilansir media internasional.

Upaya diplomatik pun muncul di tengah ketegangan: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, bahkan menawarkan mediasi untuk meredakan konflik ini, menyadari bahwa kelanjutan bentrokan Pakistan–Afghanistan dapat memperburuk ketidakstabilan di kawasan Asia Selatan.

Jika konflik terus berkembang—terutama di saat daya dukung global kepada Afghanistan sangat rendah akibat tersedotnya perhatian ke konflik Iran—risiko perluasan perang menjadi nyata.

Negara-negara tetangga seperti India, Tiongkok, dan Turki tentunya memiliki kepentingan strategis di kawasan yang bisa membuat ketegangan semakin rumit daripada sekadar bentrokan bersenjata dua negara.

Sorotan internasional yang berfokus pada konflik besar di Teluk telah secara tidak langsung “mendiamkan” tragedi kemanusiaan di Afghanistan timur. Padahal, dampak nyata perang—ratusan korban sipil, puluhan ribu pengungsi, dan ancaman terhadap bantuan pangan—merupakan bagian dari gambaran konflik dunia yang sama peliknya.

Ketika konflik di Timur Tengah mendominasi opini publik global, tragedi perbatasan Pakistan–Afghanistan menjadi salah satu krisis yang kurang terlihat, tetapi sama pentingnya untuk diperhatikan oleh komunitas internasional.

Konflik ini bukan hanya soal bentrokan senjata, melainkan juga soal kemanusiaan, kelaparan, dan marginalisasi isu global yang kurang tersorot. Ukraina pernah mendapat sorotan panjang media global—kini konflik yang terjadi di Asia Selatan juga membutuhkan narasi yang sama agar dunia tidak terlupa terhadap jutaan nyawa yang terancam menjadi korban.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Upaya Menangkal Radikalisme bagi Pemuda, Kemendagri Gelar Diskui Penguatan Pelajar di Kota Cirebon
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Agen Travel Jadi Kunci Kelancaran Perjalanan Domestik dan Internasional, Angkasa Tour Ungkap Alasannya
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Mudik Lebaran 2026, Jumlah Angkutan Laut di Pelabuhan Sampit Bertambah 
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ekonom: Ketidakpastian Ekonomi Bikin Konsumen Tahan Beli Mobil, Pilih Emas
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Dari Istana ke Umat, Saat Ulama dan Umara Menyatukan Sikap di Tengah Badai Geopolitik
• 15 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.