Ekonom: Ketidakpastian Ekonomi Bikin Konsumen Tahan Beli Mobil, Pilih Emas

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Ketidakpastian kondisi ekonomi membuat sebagian masyarakat menahan pengeluaran untuk pembelian barang bernilai besar, termasuk mobil. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, kondisi ini juga tercermin dari perubahan perilaku konsumsi masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, saat situasi ekonomi dirasa belum sepenuhnya stabil, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Pengeluaran untuk barang-barang dengan nilai besar seperti mobil maupun properti kerap ditunda.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian masyarakat justru memilih menyimpan dana atau mengalihkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Salah satunya adalah emas, yang belakangan mengalami tren kenaikan harga signifikan.

“Dalam situasi yang tidak pasti justru orang cenderung menahan uang. Kecenderungannya mereka membeli emas,” ujar Josua di sela-sela Toyota Iftar Media di Jakarta, Jumat (6/3).

Ia menjelaskan, fenomena tersebut menjadi salah satu indikator bahwa daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, belum sepenuhnya pulih. Ketika kondisi ekonomi dirasa belum cukup kuat, konsumen akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.

Akibatnya, belanja untuk sektor-sektor yang membutuhkan komitmen keuangan jangka panjang, seperti pembelian kendaraan, menjadi lebih selektif. Banyak konsumen memilih menunda pembelian hingga kondisi ekonomi dirasa lebih stabil.

"Memang kita lihat dari sisi perilaku jelas berubah. Sebelumnya orang cari pride, sekarang lihat lagi bagaimana keamanan dompetnya, keuangannya, kalau kita lihat keputusan beli kendaraan bermotor seperti mobil sekarang sangat rasional," katanya.

Hal tersebut turut mendasari keputusan membeli kendaraan yang saat ini semakin rasional. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan aspek kebanggaan atau gengsi, tetapi lebih fokus pada keamanan kondisi keuangan rumah tangga.

Pertimbangan seperti besaran cicilan, efisiensi kendaraan, hingga biaya perawatan menjadi faktor yang semakin diperhitungkan sebelum memutuskan membeli mobil.

"Kemudian ada fenomena saat kelas menengah pendapatannya tidak diimbangi dengan harga mobil yang naik terus, artinya ada turun kelas, yang tadinya bisa beli mobil baru sekarang beli bekas," lanjutnya.

Ia menilai perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa faktor ekonomi masih menjadi penentu utama dalam pergerakan pasar otomotif nasional.

Meski demikian, Josua melihat prospek pasar otomotif Indonesia tetap memiliki potensi pertumbuhan. Dengan tingkat kepemilikan mobil yang masih relatif rendah dibanding negara lain di kawasan, peluang pasar masih terbuka selama daya beli masyarakat terus membaik.

"Karena pasar otomotif Indonesia masih dengan tingkat kepadatan mobil yang sangat rendah dibandingkan pasar Thailand yang cukup besar. Memang dalam dua tahu terakhir terjadi penurunan penjualan mobil dan itu bukan hanya di Indonesia, artinya pasa di sini masih besar," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diskon Tarif Tol 30 Persen Berlaku Mulai Pekan Depan, Catat Daftar Ruasnya
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Berkas Perkara Mantan Bupati Ponorogo Lengkap, KPK Segera Limpahkan ke Jaksa Untuk Disidangkan
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Anti Waswas Beli Mobil Bekas, Otospector Berani Garansi 3 Tahun
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Israel Coba Adu Domba Negara Teluk Lewat Serangan Fasilitas Energi
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
ESDM Target Pipa Gas Dumai-Sei Mangkei Bisa Beroperasi pada 2027
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.