Mahfuz Sidik Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017 mengingatkan potensi terjadinya tragedi kemanusiaan besar di Iran menyusul eskalasi serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa hari terakhir.
Mahfuz menilai, jika serangan udara terus berlangsung tanpa memperhatikan hukum humaniter internasional, maka situasi di Iran berpotensi berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang bahkan bisa melampaui tragedi yang terjadi di Gaza, Palestina.
“Peristiwa genosida yang terjadi di Gaza sangat mungkin terulang di Iran jika serangan militer Amerika dan Israel terus berlanjut tanpa kendali,” ujar Mahfuz dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ia mengutip laporan media pemerintah Iran yang menyebutkan hingga hari kelima konflik, jumlah korban sipil yang meninggal telah mencapai sekitar 1.045 orang, sementara lebih dari 6.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
Menurut Mahfuz, angka tersebut menunjukkan tingkat korban yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Jika dihitung rata-rata, jumlah korban meninggal mencapai sekitar 209 orang per hari.
Sebagai perbandingan, ia merujuk pada studi yang dipublikasikan oleh jurnal medis internasional The Lancet yang memperkirakan jumlah korban meninggal di Gaza selama 15 bulan pertama operasi militer Israel mencapai lebih dari 75.000 orang.
Dalam laporan tersebut, rata-rata korban meninggal di Gaza mencapai sekitar 167 orang per hari.
“Jika dibandingkan, korban meninggal di Iran dalam lima hari terakhir mencapai rata-rata 209 orang per hari. Artinya hampir satu setengah kali lebih tinggi dibanding rata-rata korban di Gaza,” kata Mahfuz.
Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau Partai Gelora ini juga menyoroti pernyataan Pete Hegseth Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang mengancam akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran.
Mahfuz menilai ancaman tersebut menunjukkan bahwa operasi militer Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan semakin agresif dalam waktu dekat.
“Jika militer AS dan Israel melancarkan serangan udara secara menyeluruh seperti yang diancamkan, maka jumlah korban sipil di Iran bisa meningkat secara drastis,” ujarnya.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Karoline Leavitt juru bicara Gedung Putih yang menyatakan bahwa Amerika Serikat berupaya menguasai dominasi udara di wilayah Iran.
Dalam pernyataannya kepada media, Leavitt mengatakan bahwa dalam waktu dekat militer AS akan melancarkan serangan udara besar-besaran untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran.
Selain itu, Mahfuz juga menyoroti keputusan United States Congress yang telah menyetujui langkah militer yang diambil Donald Trump Presiden dalam konflik tersebut.
Berkaca pada konflik yang terjadi di Gaza, Mahfuz menilai operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi menjadi perang yang tidak seimbang.
Ia menilai dominasi kekuatan militer udara yang dimiliki kedua negara dapat menyebabkan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.
“Hari-hari ke depan masyarakat dunia bisa kembali menyaksikan pembantaian besar-besaran warga sipil di Iran jika operasi militer ini terus berlangsung tanpa memperhatikan hukum humaniter,” ujarnya.
Mahfuz juga menyinggung laporan serangan pada hari pertama konflik yang disebut menyasar sebuah sekolah dasar khusus siswi di wilayah Minab, Iran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sedikitnya 165 pelajar meninggal dan menuai kecaman internasional, termasuk dari UNESCO.
Ia menegaskan bahwa komunitas internasional perlu segera mengambil langkah untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
“Jika tidak ada tekanan dari masyarakat internasional, maka tragedi kemanusiaan yang lebih besar dari Gaza bisa saja terjadi di Iran,” pungkasnya.(faz)




