Kemlu menyatakan kesiapan untuk membantu mencari penginapan bagi jemaah umrah yang tertahan kepulangannya akibat perang yang berkecamuk di Iran sejak akhir pekan lalu.
Perang yang dipicu serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran berimbas ke negara-negara Timur Tengah lainnya. Pasalnya, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan militer milik AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi.
Eskalasi ketegangan tersebut berdampak pada pembatalan atau penundaan penerbangan di kawasan Timur Tengah serta Saudi.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu Heni Hamidah mengatakan pihaknya secara rutin menerima laporan terkait WNI yang terdampak penundaan penerbangan.
Ia memastikan penanganan jemaah umrah yang tertahan kepulangannya menjadi prioritas dan perhatian pemerintah Indonesia.
“Untuk penanganan WNI jemaah umrah yang stranded, perwakilan RI menerjunkan tim pemantauan di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah selama 24 jam,” kata Heni dalam konferensi pers Kemlu, Jumat (6/3).
“Jemaah yang masih tertahan kepulangannya, di bawah koordinasi perwakilan RI dan pihak travel, dicarikan akomodasi atau penginapan di sekitar Bandara Jeddah dan Madinah sambil menunggu tiket kepulangan yang tersedia,” sambungnya.
Heni tidak membeberkan apakah masih ada WNI jemaah umrah yang tertahan kepulangannya. Namun ia memastikan pihak-pihak terkait terus menjajaki kemungkinan adanya penerbangan tambahan untuk memulangkan jemaah umrah ke Indonesia sesegera mungkin.
Karena kondisi Timur Tengah masih memanas akibat konflik, Heni juga meminta WNI menunda perjalanan ke kawasan tersebut hingga situasi memungkinkan.
“Kemlu berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah untuk menyampaikan imbauan penundaan perjalanan ke kawasan Timur Tengah hingga situasi lebih kondusif,” ujar Heni.





