Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Pendiri firma analitik big data Evello, Dudy Rudianto, mengingatkan adanya penyebaran hoaks secara masif di media sosial terkait program MBG. Hoaks tersebut menarasikan seorang jurnalis CNN Indonesia bernama Valencia ditangkap aparat setelah disebut membongkar dalang keracunan MBG.
Menurut Dudy, narasi tersebut berisi fitnah dan disinformasi yang disebarkan melalui berbagai platform digital.
“Konten tersebut juga menyebutkan narasi yang bombastis seperti aksi nekat Valencia tersebut dalam rangka membongkar aib publik yang berarti membongkar aib negara,” ujar Dudy, dalam keterangan yang diterima Jumat, 6 Maret 2026.
Berdasarkan data analisis Evello, penyebaran konten hoaks itu paling dominan terjadi di platform milik Meta Platforms, khususnya Facebook dan Instagram, dibandingkan platform lain seperti X dan TikTok.
“Sebaran dan interaksi tertinggi konten hoaks ini mencapai 31.889 total engagement di Facebook dengan sebaran sebanyak 2.344 kali dan 8.478 percakapan,” terang Dudy.
Sementara di Instagram, interaksi tercatat mencapai 7.080 percakapan dengan total 29.393 likes.
Evello juga melakukan analisis lebih dalam terhadap pola percakapan yang muncul akibat penyebaran hoaks tersebut. Hasilnya menunjukkan sekitar 50 persen percakapan mengarah pada krisis kepercayaan terhadap hukum dan pemerintah.
Kelompok percakapan tersebut didominasi emosi agresif yang dipicu rasa marah dan antisipasi. Selain itu, sekitar 30 persen percakapan menyoroti narasi kegagalan serta dugaan korupsi program MBG, sedangkan 20 persen lainnya bernuansa politis dan berisi penyesalan elektoral.
Dari analisis tersebut, Evello menyimpulkan penyebaran hoaks ini didorong kelompok tertentu yang aktif secara politik dan berupaya membangun suasana permusuhan yang lebih luas.
Dudy juga menyoroti minimnya moderasi konten di platform Meta yang membuat unggahan hoaks dapat muncul hampir bersamaan.
Sebaliknya, menurutnya, isu serupa di platform X lebih cepat dimoderasi melalui sistem kecerdasan buatan.
“Sebaran dan interaksi konten ini di X tidak cukup besar karena aplikasi AI milik X memoderasi unggahan tersebut sebagai konten DFK,” ujar Dudy.
Sementara, informasi bantahan itu juga disampaikan, dalam akun Instagram resminya, @cnnindonesia yang sudah bercentang biru atau terverifikasi pada 5 Maret 2026.
Berikut isi unggahannya:
"Kemarin sebuah cerita beredar katanya jurnalis CNN Indonesia ditangkap karena mengungkap kasus MBG. Cerita itu terdengar dramatis. Terdengar seperti sesuatu yang mungkin saja terjadi.
Tapi satu hal: Itu tidak benar.
Tapi ada yang lebih menarik dari itu. Cerita yang tidak nyata, tetap dipercaya, tetap dibagikan dan menyebar begitu cepat.
Karena di era media sosial sebuah cerita sering lebih dulu dipercaya. Emosi bergerak lebih cepat daripada verifikasi.
Di titik itulah jurnalisme, bukan saat cerita ramai, bukan saat emosi memuncak.
Tapi saat semua orang sudah merasa yakin padahal belum ada yang benar-benar memeriksa.
Jurnalisme ada bukan untuk ikut mempercayai, bukan untuk ikut menyebarkan. Tapi untuk bertanya: "Benarkah ini terjadi?"
Karena kepercayaan publik tidak boleh dibangun di atas asumsi melainkan pada fakta yang sudah diuji."
Editor: Redaktur TVRINews




