Seorang pekerja bangunan menyibak pita kuning “garis polisi” yang diikatkan pada pagar salah satu rumah di perumahan Graha Sedayu Sejahtera, Desa Argosari, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (6/3/2026). Pria itu dan dua rekannya mendapat tugas membongkar berbagai benda yang masih dapat diselamatkan dari rumah tipe 36 milik Aga.
Target pertama mereka adalah mencopot pagar besi yang belum lama dicat pada rumah yang terletak pada posisi ‘hook’ itu. Ujung rumah itu ambles beberapa puluh sentimeter pada salah satu ujungnya dan retakan menganga dengan lebar sekitar 30 cm terlihat di salah satu bagian dinding.
Rumah tersebut baru selesai direnovasi sekitar empat bulan sebelumnya karena terjadi penurunan tanah. Tegel porselen berukuran 60x60 sentimeter pun masih nampak baru, namun nat antartegel terlihat melebar karena pergeseran tanah dibawahnya.
Menurut para tukang, sang pemilik akhirnya menyerah dan memilih untuk membongkar rumah tersebut dan berpindah tempat tinggal karena kondisinya semakin membahayakan. Penurunan tanah sebanyak lebih dari dua tingkat terlihat pada badan jalan di depan dan samping rumah itu.
Fenomena tanah yang ambles sebagian juga nampak di lapangan yang berada di depan rumah Aga. Total terdapat enam rumah dan satu buah masjid yang mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah. Fasilitas umum berupa lapangan juga tidak bisa digunakan untuk sementara waktu karena terdapat sejumlah retakan di atasnya.
Petugas BPBD Bantul telah memasang sejumlah terpal berwarna biru di retakan badan jalan dan lapangan pascakejadian pada 26 Februari 2026 lalu itu. Pemasangan terpal bertujuan mengurangi laju penurunan tanah akibat gerusan air hujan.
Kerusakan berupa retakan tembok juga terlihat pada sejumlah rumah lainnya di kompleks itu. Bangunan mushola di dekat lapangan turut mengalami kerusakan sementara sehingga garis polisi yang berwarna kuning pun turut dipasang di tempat itu.
Utomo (54), warga yang tinggal di sebelah rumah Aga, turut merasa was-was karena rumahnya yang juga sedang direnovasi pun mulai mengalami keretakan serupa. “Anak dan istri saya ingin pindah rumah karena kondisinya berbahaya. Tapi saat ini saya belum memiliki solusi akan pindah ke mana. Jika ada kesempatan, saya akan ikut pindah,” ujar pria yang baru sekitar empat tahun tinggal di kompleks perumahan itu.
Menurut Utomo, sejumlah tetangganya telah menyerah dan memilih pindah karena merasa tak kuasa menghadapi fenomena alam itu. Sebuah rumah di depan kediaman Utomo bahkan telah dirobohkan lebih dahulu beberapa waktu sebelumnya.
Sebagian warga menduga retakan sepanjang sekitar 300 meter muncul di bekas lokasi jurang yang diuruk untuk lokasi perumahan. Warga berharap pihak pengembang segera bertindak cepat untuk menangani permasalahan ini agar dampak kerusakan tidak menjalar kian luas dan semakin parah.
Kompleks perumahan itu rata-rata ditempati oleh rumah tipe 36 dengan kapling tanah seluas 90 meter persegi. Lokasi perumahan itu berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan 1,5 kilometer dari Jalan Raya Yogyakarta-Wates. Sebagian warga memilih tinggal di kompleks perumahan itu karena akses menuju Kota Yogyakarta maupun Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo dinilai relatif mudah dan strategis.
Namun, impian warga untuk menikmati tempat tinggal dengan tenang kini berubah menjadi kekhawatiran. Pilihan pindah rumah sudah dilakukan sebagian warga. Akan tetapi, sebagian lain hanya bisa pasarah sambil menanti solusi dari pengembang.





