Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan risiko kenaikan kasus campak menjelang periode libur Lebaran yang kerap diisi dengan berkerumun, disertai tingkat mobilisasi tinggi. Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala suspek campak diminta untuk sementara waktu tidak bepergian guna mencegah penularan.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan tren kasus campak sebenarnya mulai menunjukkan penurunan hingga minggu ke-8 tahun ini. Namun, potensi peningkatan tetap perlu diwaspadai, terutama saat periode libur panjang.
“Jika ada balita atau seseorang yang menderita suspek seperti demam kemudian ada ruam campak, itu maka ada baiknya tidak ke mana-mana dulu. Apalagi ini mau libur lebaran, kemungkinan orang-orang untuk kumpul bersama itu besar,” kata dia dalam konferensi pers yang digelar Jumat (6/3).
Ia menjelaskan sepanjang 2026 tercatat 10.453 suspek campak. Pada minggu ke-8 terjadi penambahan 506 suspek dibanding minggu sebelumnya.
Menurut Andi, pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir sering berkaitan dengan periode libur panjang yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat, dan juga pada awal tahun.
“Kita perhatikan di sini ada hubungan antara kejadian kasus ini dengan adanya perayaan-perayaan yang bersifat berkumpul,” ucapnya.
“Kita lihat tren selama 5 tahun terakhir. Kasus cenderung mulai meningkat pada awal tahun, ya, kemudian menurun begitu, dan kemudian akan naik lagi pada sekitar bulan Agustus, September, Oktober, November,” imbuh Andi.
Andi mengingatkan masyarakat untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, serta mengurangi kontak dengan orang sehat.
“Apabila anak sakit, maka segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan,” tegasnya.
Ia menekankan kembali soal pentingnya tidak bepergian jika anak sakit, sekalipun itu ke sekolah.
“Jika harus sekolah nantinya, sebaiknya tidak sekolah dulu. Intinya tidak ke mana-mana,” tutur Andi.
Ia juga mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker ketika berada di kerumunan. Selain itu, orang tua diminta memastikan status imunisasi anak telah lengkap.





