BOGOR, KOMPAS.com - Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Kota Bogor mulai menerima Bantuan Hari Raya (BHR) dari pihak aplikator menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H. Besaran bantuan yang diterima para pengemudi pun bervariasi, tergantung performa mereka selama setahun terakhir.
Salah satu pengemudi, Opan Sopiandi (68), mengaku menerima BHR sebesar Rp900.000. Nominal tersebut merupakan besaran maksimal BHR bagi pengemudi roda dua.
"Alhamdulillah saya dapet Rp900.000," ungkap Opan Sopiandi di Alun-alun Kota Bogor, Jumat (6/3/2026).
Opan menjelaskan, nominal maksimal itu didapat karena ia mampu menjaga performa sebagai pengemudi selama satu tahun terakhir.
Baca juga: Curhat Ojol 11 Tahun Jadi Mitra, Terima BHR Rp250.000 Padahal Dipotong Rp600.000 per Bulan
Menurut dia, jam operasionalnya sebagai ojol bahkan melampaui batas minimal yang ditetapkan aplikator, yakni 300 jam per bulan. Dalam sebulan, ia mengaku bisa mencapai 365 jam waktu online.
"Kalau (kategori) Harapan itu jam terbangnya. Kalau (kategori) juara kan harus ya itu 300 seperti saya nih. Ini kan saya juara nih," tutur dia.
Opan mengatakan, menjaga performa kerja merupakan bentuk keseriusannya dalam melayani pelanggan.
Selain itu, ayah empat anak tersebut juga mengaku harus tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai salah satu anaknya yang masih bersekolah.
"Yang dikejar ya dapur lah, buat kebutuhan keluarga juga betul. Kita kan masih punya anak sekolah," jelasnya.
Ojol gunakan BHR untuk bayar zakatPengemudi lain, Bambang Kurniawan (45), mengatakan bahwa ia juga telah menerima BHR dari aplikator sebesar Rp350.000. Bambang berencana menggunakan uang tersebut untuk membayar zakat bagi keluarganya.
"Iya zakat pas buat lima orang, sisanya ya mungkin sedekah," kata Bambang saat ditemui pada Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Cerita Ojol 11 Tahun Jadi Mitra di Jakbar, Dapat BHR Cuma Rp250.000
Ia menuturkan, pengemudi harus menjaga performa layanan agar tetap memenuhi syarat menerima BHR dari aplikator.
"Ya harus rajin, yang keduanya jangan sering cancel customer lah, karena itu kan ngurangi performa juga, bisa kurang juga. Itu saja sih intinya ya rajinlah tiap hari rajin gitu saja," jelas dia.
Meski demikian, Bambang mengaku peluang untuk mendapatkan BHR lebih besar apabila aturan dari pihak aplikator disampaikan sejak awal.
"Iya pastilah, iya. Ini kan peraturannya mendadak begini-begini gitu. Ya kemungkinan, kemungkinan dapat," ujarnya.
Menurut dia, informasi yang diberikan lebih awal akan membuat pengemudi dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk memenuhi syarat penerimaan BHR.
"Saya juga tidak tahu peraturannya kayak gimana karena peraturannya mendadak ya. Jadi peraturan begini-begini kita kan tidak tahu kan kalau misalkan ada peraturan harus begini ya persiapan dari tahun kemarin dipersiapin gitu," ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




