Membayangkan Menjadi Pengangguran: Bagaimana Melihat Masa Depan dengan Jujur?

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Membayangkan suatu pagi bangun tanpa tujuan jelas. Ijazah sudah di tangan, semangat masih menyala, tetapi lowongan kerja terasa seperti pintu yang selalu tertutup.

Kita mengirim lamaran berkali-kali, menunggu balasan yang tak kunjung datang, lalu mulai bertanya dalam diam: Apakah aku kurang mampu, atau memang dunia kerja sedang tidak ramah?

Pertanyaan itu bukan milik satu dua orang. Ia menjadi gema yang pelan, tetapi luas di kepala banyak anak muda hari ini.

Data yang dirilis Kompas.id pada 27 Februari 2026 menyebutkan satu dari lima orang muda usia 15 sampai 24 tahun di dunia berada dalam kategori NEET—singkatan dari Not in Employment, Education, or Training. Jumlahnya mencapai 259 juta hingga 262 juta orang pada 2024.

Bandingkan dengan tingkat pengangguran global semua kelompok usia yang sekitar 4,9 persen. Jaraknya mencolok. Di Indonesia, angka pemuda NEET berada di kisaran 19 sampai 20 persen menurut data Badan Pusat Statistik. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret jutaan cerita yang tertunda.

Ketika membayangkan menjadi pengangguran, kita sering mengira itu adalah situasi yang jauh dari diri sendiri. Kita merasa masih pelajar, masih punya waktu, masih punya pilihan. Namun kenyataannya, transisi dari bangku sekolah ke dunia kerja kini semakin penuh ketidakpastian.

Banyak teman yang sudah lulus kuliah harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat panggilan wawancara pertama. Ada yang akhirnya menerima pekerjaan apa saja demi pengalaman, meski tidak sesuai bidang studi. Ada pula yang kembali mengambil kursus tambahan karena merasa belum cukup kompeten.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Inggris, hampir satu juta orang muda usia 16 sampai 24 tahun tercatat sebagai NEET dalam laporan 2024. Para ekonom di London School of Economics menyebutnya sebagai persoalan struktural pasar kerja.

Artinya, masalahnya bukan sekadar malas atau kurang usaha, melainkan juga berkaitan dengan desain sistem ekonomi dan ketenagakerjaan itu sendiri. Negara maju saja menghadapi persoalan ini, apalagi negara berkembang dengan daya serap tenaga kerja yang lebih terbatas.

Kita bisa melihat gambaran konkret dalam berbagai bursa kerja. Di Surabaya, misalnya, sebuah job fair pada September 2024 menghadirkan 80 perusahaan dengan sekitar 4.501 lowongan. Sekilas angka itu tampak besar.

Namun jika dibandingkan dengan jumlah pencari kerja muda setiap tahun, peluang tersebut terasa sempit. Apalagi, banyak posisi mensyaratkan pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. Pertanyaan klasik pun muncul: Bagaimana memperoleh pengalaman jika kesempatan pertama saja sulit didapat?

Situasi menjadi semakin kompleks karena pola perekrutan berubah. Banyak perusahaan kini menawarkan kontrak jangka pendek, bukan status karyawan tetap. Bagi generasi muda, ini berarti hidup dalam ketidakpastian.

Gaji mungkin cukup untuk bertahan, tetapi perencanaan jangka panjang—seperti membeli rumah atau menabung untuk keluarga—menjadi terasa jauh. Rasa cemas pelan-pelan tumbuh karena stabilitas finansial tidak pernah benar-benar hadir.

Di sisi lain, kemajuan teknologi mempercepat pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Kecerdasan buatan dan otomatisasi menggantikan banyak pekerjaan entri level. Posisi administrasi dasar, pengolahan data sederhana, bahkan layanan pelanggan kini bisa dilakukan oleh sistem digital.

Dunia kerja berubah lebih cepat daripada kurikulum pendidikan. Akibatnya, terjadi kesenjangan keterampilan antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang dibutuhkan industri.

Orang tua dan guru selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan serta pengangguran. Keyakinan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan formal saja tidak lagi cukup. Banyak lulusan sarjana merasa belum siap menghadapi tuntutan praktis di lapangan.

Keterampilan seperti literasi digital, analisis data, komunikasi profesional, dan kemampuan adaptasi menjadi semakin penting. Seruan untuk memperkuat pendidikan vokasi pun menguat, tetapi transformasi sistem pendidikan membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan.

Mengapa angka NEET tetap tinggi? Selain faktor teknologi, kondisi ekonomi global belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi dan tekanan inflasi. Perusahaan cenderung berhati-hati dalam merekrut pegawai baru. Mereka lebih memilih mempertahankan karyawan lama dan meningkatkan efisiensi.

Dalam situasi seperti ini, kelompok muda yang belum memiliki pengalaman menjadi pihak paling rentan tersisih. Bahkan, laporan internasional menunjukkan dua dari tiga pemuda NEET di dunia adalah perempuan. Artinya, persoalan ini juga terkait ketimpangan gender dan akses kesempatan.

Membayangkan menjadi pengangguran bukan hanya soal tidak memiliki gaji. Ia menyangkut harga diri dan identitas. Dalam banyak budaya, pekerjaan sering dianggap ukuran keberhasilan. Ketika seorang muda tidak bekerja, ia kerap dipandang kurang produktif.

Padahal, realitasnya jauh lebih rumit. Banyak di antara mereka sebenarnya aktif mencari peluang, meningkatkan keterampilan, atau membantu keluarga, tetapi belum tercatat dalam sistem formal.

Sebagai pelajar, membayangkan diri berada dalam posisi itu bisa terasa menakutkan. Kita tumbuh dengan narasi bahwa kerja keras pasti berbuah manis. Namun, dunia hari ini menuntut lebih dari sekadar kerja keras. Ia menuntut strategi, jejaring, kreativitas, dan keberanian beradaptasi.

Mimpi menjadi profesional sukses tidak lagi cukup dirancang menjelang kelulusan. Ia perlu dipikirkan sejak dini, bahkan ketika kita masih duduk di bangku sekolah.

Meski demikian, membayangkan menjadi pengangguran tidak harus berakhir pada pesimisme. Imajinasi itu justru bisa menjadi alarm. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan tidak datang otomatis. Kita perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Belajar tidak hanya untuk nilai, tetapi juga untuk kompetensi. Membangun relasi tidak hanya untuk pergaulan, tetapi juga untuk kolaborasi. Mencoba proyek kecil, magang, atau usaha mandiri bisa menjadi latihan menghadapi dunia nyata.

Di level kebijakan, negara memiliki tanggung jawab besar. Investasi pada penciptaan lapangan kerja, pelatihan keterampilan, dan dukungan bagi wirausaha muda sangat krusial. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan perlu diperkuat.

Tanpa itu, generasi muda berisiko terjebak dalam lingkaran ketidakpastian yang panjang. Namun, perubahan sistem membutuhkan waktu, sementara masa muda tidak bisa menunggu terlalu lama.

Membayangkan menjadi pengangguran adalah cara untuk melihat masa depan dengan jujur. Ia bukan sekadar bayangan suram, melainkan juga refleksi tentang kondisi sosial dan ekonomi yang sedang kita hadapi.

Dari bayangan itu, kita belajar bahwa pekerjaan bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan juga soal martabat dan kesempatan berkembang.

Jika kesempatan belum tersedia, kita perlu menciptakan ruang sendiri, sekecil apa pun. Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh keberanian generasi muda untuk terus bergerak di tengah keterbatasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsak Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 7 Maret 2026
• 5 jam laludetik.com
thumb
Ketum PBNU Ungkap Peran Prabowo di Board of Peace Terkait Konflik di Timur Tengah
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Bittime Ramadan Referral Rewards, Berkah di Tengah Gejolak Volatilitas Pasar
• 10 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Komdigi Nonaktif Akun YouTube, TikTok hingga Roblox Milik Anak di Bawah 16 Tahun
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mayoritas Kota Besar Indonesia Berpotensi Diguyur Hujan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.