Teheran: Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil menargetkan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln menggunakan drone produksi dalam negeri di Laut Oman.
Serangan tersebut disebut memaksa kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat mundur dari wilayah dekat perairan Iran.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters pada Rabu, 4 Maret 2026, mengatakan kapal induk itu dicegat sekitar 340 kilometer dari batas maritim Iran di Sea of Oman. Kapal tersebut disebut memasuki kawasan itu sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Menurut pernyataan tersebut, keberadaan kapal induk itu bertujuan memantau serta mengendalikan jalur strategis Selat Hormuz di tengah perang yang sedang berlangsung. Setelah serangan terjadi, USS Abraham Lincoln bersama kapal perusak pengawalnya terlihat meninggalkan zona pertempuran dengan kecepatan tinggi.
Juru bicara itu menyatakan kelompok kapal induk tersebut kemudian mundur lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat tidak berhasil mencapai tujuan untuk mengintimidasi Iran.
Dilansir dari media Press TV, Jumat 6 Maret 2026 peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir. Hingga laporan ini diterbitkan, Pentagon belum memberikan komentar mengenai tingkat kerusakan kapal induk tersebut atau alasan penarikan mendadaknya.
Sebelumnya pada Sabtu, IRGC juga mengklaim menargetkan USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik. Serangan terhadap kapal induk itu disebut terjadi setelah Amerika Serikat menyerang fregat Iran, IRIS Dena, di perairan dekat Sri Lanka saat kapal tersebut kembali dari India.
Lebih dari 120 pelaut Iran berada di atas kapal tersebut ketika serangan terjadi. Insiden itu menuai kecaman luas di Iran maupun di luar negeri.
(Keysa Qanita)




