"War Takjil" Kekinian Jakarta, Antre untuk  Pengalaman Baru hingga Eksis di Medsos

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Fenomena berburu takjil kekinian atau mencari jajanan viral semakin menjamur di Jakarta. Menunya pun tak main-main, penuh inovasi demi mengejar tren. Rasa bukan satu-satunya pemikat. Presentasi estetik ciamik untuk diabadikan di media sosial ikut menjadi kriteria utama.

Salah satu titik paling hidup menyaksikan semarak “war takjil” kekinian adalah Blok M di Jakarta Selatan. Takjil kekinian yang ditawarkan biasanya masuk kategori premium.

Harga sebagian menu bukan untuk ”kaum mendang-mending". Ada yang dibanderol Rp 12.000 per porsi tapi ada yang menyentuh Rp 85.000 per porsi.

Menu yang ditawarkan sangat beragam. Bila dessert box dengan lapisan tiramisu lumer di mulut atau mochi donut kenyal sudah biasa, ada godaan dubai chewy cookie berlapis marshmallow dengan isian pistachio kunafa yang siap disantap. Bila perut masih sanggup, cicipi juga puding lembut berbahan silken tofu dengan siraman saus karamel.

Pada Kamis (5/3/2026) pukul 17.00 WIB, misalnya, keramaian itu kembali terlihat. Kawasan Blok M Hub, Blok M Square, hingga Blok M Plaza seketika berubah menjadi lautan manusia. Kemungkinan besar semuanya berburu hidangan berbuka puasa.

Belakangan, kawasan ini memang seolah menjadi surga kuliner yang merangkul berbagai selera. Gerobak pedagang kaki lima menjajakan takjil tradisional berdampingan dengan gerai-gerai takjil viral. Meski nikmat harganya tidak selalu murah.

Pemandangannya pun sangat khas ibu kota. Mulai dari anak muda bergaya kasual hingga para pekerja kantoran yang masih setia mengalungkan lanyard, semuanya membaur. Mereka rela berdiri sabar mengantre di depan berbagai gerai demi mendapatkan menu berbuka impian.

Salah satu gerai yang paling ramai adalah Artirasa, gerai dessert viral dengan konsep pembelian mandiri melalui mesin layar sentuh. Menu andalannya ialah cheesetart premium seharga Rp 55.000–60.000 per potong. Sementara cheesecake-nya dijual dengan harga Rp 80.000–85.000 per potong.

Tingginya antusiasme warga juga membuat antrean di Artirasa pantang bubar meski hujan tiba-tiba turun. Para pembeli tetap setia berbaris rapi. Mereka berlindung di balik deretan payung oranye ikonik yang disediakan penjual.

Namira (23), pekerja kantoran asal Jakarta Selatan, adalah salah satu yang ikut antre sore itu. Ia rela berdiri cukup lama demi original cheesetart favoritnya.

”Mumpung kantor dekat sini, jadi sekalian mampir. Nanti buka puasa di sini dulu, baru pulang naik MRT sekitar pukul 19.00 saat sudah agak sepi,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).

Bagi Namira, harga yang ditawarkan sepadan dengan kualitas rasanya. Namun, ia harus menelan kekecewaan saat berniat membeli roti tambahan di Little Salt Bread yang berada tepat di seberang Artirasa.

Gerai yang terkenal dengan roti garam ala Korea berbentuk croissant itu ternyata sudah menutup pemesanan sejak sore. Antrean yang masuk terlalu membeludak.

Berjalan beberapa meter dari sana, kerumunan yang tak kalah padat menyelimuti gerai OO Donut. Daya tarik utamanya adalah deretan donat labu yang ditata rapi di dalam etalase kaca.

Donat bergaya Japanese Pumpkin Doughnut ini menggunakan labu sebagai bahan dasar. Hasilnya adalah tekstur donut yang lembut.

Mengintip ke papan menu kayu bergaya rustic di area pemesanan, pembeli disuguhkan ragam pilihan yang cukup bervariasi. Rentang harganya mulai dari sekitar Rp 12.000-Rp 35.000 per buah, tergantung jenis adonan dan topping yang dipilih.

Varian paling sederhana seperti donut krispi dan donut lembut dibanderol sekitar Rp 12.000 per biji dengan taburan gula halus. Sementara itu, pilihan dengan topping lebih beragam seperti cheese, baked vanilla, dan chocolate dijual di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 22.000 per biji.

Ada pula varian yang lebih premium seperti pistachio chocolate, strawberry cream, dan double matcha yang harganya berkisar antara Rp 26.000 hingga Rp 35.000 per buah.

Meriahnya pilihan rasa ini tak jarang membuat para pemburu takjil rela merogoh kantong lebih dalam. ”Tadi beli empat donat, total Rp 82.000. Ini baru satu jajanan, masih ada makanan lain yang harus dibeli juga,” ujar Marissa (20), warga Jakarta Pusat.

Menurut Marissa, sesekali membeli dessert kekinian menjadi bentuk penghargaan diri atau self reward setelah seharian berpuasa dan beraktivitas. Ia menilai hal tersebut masih wajar selama tidak dilakukan setiap hari dan tetap menyesuaikan dengan kondisi keuangan.

Serba ada

Keramaian di Blok M tak berhenti di situ. Dessert kekinian seperti es krim dan gelato di Mack’s Creamery, cokelat dan dessert di Chocolate Room, hingga donat mochi di Cloudcakes ramai pengunjung.

Selain itu puding karamel di Puding Paman Barito, aneka roti di Drunk Baker, serta berbagai pastry di London Layers juga dipadati pembeli.

Penggemar makanan gurih pun antre panjang di Dimsum Difar, Cimol Keju Barito, hingga hidangan berat seperti Ayam Becek Legendaris, Ayam Renald, Ayam Celup Mang Asep, dan Obihiro Nikudon.

Baca JugaBlok M, Surga Berburu Menu Buka Puasa

Adapun dahaga setelah seharian berpuasa ramai dituntaskan di kedai minuman viral seperti Matchaman, Susu Murni Bahagia, Hi Fruit, dan Sancha.

Selain itu, Blok M juga tengah menjadi tuan rumah festival kuliner bertajuk “A Ramadhan Food Journey” yang menghadirkan berbagai menu menarik.

Para pengunjung bisa mencicipi dubai chewy cookie yang sedang viral, hingga menu khas Thailand seperti thai grill seafood, somtam, dan thai tea hingga 8 Maret 2026.

Meski tren takjil premium dan kekinian begitu menggoda, pesona takjil murah meriah tetap tak pernah pudar. Lapak gorengan dan es di sudut-sudut Blok M masih ramai dikerumuni pembeli yang mencari cita rasa orisinal Nusantara khas Ramadhan.

Muthia (32), salah satu pembeli, mengatakan tetap memilih gorengan seharga Rp 2.000 per buah. Menurut dia, gorengan sederhana paling nikmat dan cukup mengganjal perut setelah seharian berpuasa.

Meski takjil kekinian menarik karena bentuknya unik dan sering viral di media sosial, ia menilai harganya cukup mahal. ”Kadang satu dessert bisa sama harganya dengan beberapa gorengan,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui tren takjil kekinian sedang digemari banyak orang, terutama anak muda yang ingin mencoba menu baru atau sekadar mengikuti tren viral. Fenomena ini juga didorong kreativitas kuliner yang membuat takjil tampil lebih modern dan menarik perhatian masyarakat.

Di sisi lain, Muthia juga senang mengunjungi kawasan Blok M, bukan hanya untuk kuliner, tetapi juga untuk nongkrong dan bersantai sore hari. Di Blok M, pengunjung bisa menjelajahi M Bloc Space dengan kafe, live music, dan pop-up shop, berjalan dan duduk santai di Martha Tiahahu Park, atau menikmati suasana ala Jepang di ”Little Tokyo”.

”Di Blok M, banyak hiburan ringan, mulai dari photo booth sampai area bermain anak. Bahkan, komunitas lokal sering memanfaatkan area outdoor untuk seni, musik, atau sekadar nongkrong sambil menunggu buka,” kata Muthia.

Ramadhan di rantau

Bagi warga Jakarta yang ingin berburu makanan kekinian dan unik, bazar takjil Ramadhan di Mal Senayan Park, Jakarta Pusat, juga bisa menjadi pilihan. Bertajuk “Ramadhan di Rantau”, bazar takjil ini dibuka sejak 20 Februari dan akan berlangsung hingga 8 Maret 2026, mulai pukul 15.00 WIB.

Bazar ini diikuti puluhan gerai kuliner, mayoritas dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meski beberapa merek kuliner Jakarta yang sudah dikenal juga turut meramaikan.

Baca JugaBlok M Hidup Kembali lewat Aroma dan Rasa

Pilihan kuliner sangat beragam, mulai dari takjil klasik seperti gorengan dan es buah, hingga menu viral seperti es boba jumbo dan dimsum goreng. Tidak hanya makanan ringan, bazar ini juga menghadirkan hidangan berat seperti nasi gudeg, ayam bakar, dan seafood.

Pengunjung bahkan bisa mencicipi kuliner mancanegara, seperti panipuri dari India, kopi dan tiramisu viral dari Dubai, serta mango sticky rice khas Thailand.

Aulia (27), warga Jakarta Selatan, antusias mengunjungi bazar tersebut. Ia mengatakan banyak gerai baru yang ditemuinya, namun makanannya enak dan unik.

”Senang banget bisa nyobain takjil dari berbagai daerah dan bahkan dari luar negeri. Aku coba mango sticky rice dan panipuri,” katanya.

Baca JugaSehat di Bulan Puasa, Warga Jakarta Lebih Jeli Memilih Takjil

Ia menambahkan, bazar ini juga menjadi kesempatan untuk mendukung UMKM lokal. Selain beragam pilihan kuliner, suasana bazar luar ruang yang luas dan tertata rapi membuat pengalaman berbuka semakin menyenangkan.

Selain bazar Ramadhan di Rantau, Senayan Park juga menghadirkan” Pasar Ramadhan Festival Market”, yang dibuka sejak 26 Februari hingga 15 Maret 2026.

Perubahan cara

Associate Professor Vokasi di Universitas Indonesia, sekaligus pengamat sosial, Devie Rahmawati menilai, fenomena takjil kekinian bukan sekadar soal makanan. Itu juga mencerminkan perubahan cara generasi muda mengonsumsi pengalaman di era digital.

Laporan industri makanan menunjukkan 84 persen Gen Z mencoba tren makanan yang mereka lihat di media sosial, dan hampir 70 persen menjadikan platform, seperti Tiktok, sebagai sumber utama rekomendasi kuliner. Sebelum mencicipi, mereka sudah “mencicipi secara visual” lewat layar.

”Banyak riset menunjukkan bahwa Gen Z tidak lagi menemukan makanan dari dapur atau rekomendasi keluarga, tetapi dari layar ponsel,” ujar Devie saat dihubungi, Jumat (6/3/2026).

Menurut Devie, Gen Z tidak hanya mencari rasa enak. Mereka mencari pengalaman otentik, praktis, dan punya cerita. Makanan yang estetik, unik, atau punya konsep baru terasa lebih menarik karena mudah dibagikan dan menjadi bagian dari ekspresi diri di media sosial.

”Mereka membeli bukan hanya rasa, tetapi juga cerita, pengalaman, dan momen yang bisa dibagikan. Karena itu, takjil kekinian yang unik, visual, dan viral terasa lebih bernilai, bahkan ketika harganya premium,” ujarnya.

Fenomena ini juga mengubah cara orang memaknai ruang publik saat Ramadhan. Dahulu, orang datang untuk makan bersama dan bersosialisasi langsung. Namun, kini muncul dimensi baru, yaitu pengalaman digital yang menyertai setiap momen berbuka.

”Mereka memotret, merekam, lalu membagikannya di media sosial. Akibatnya, ruang seperti Blok M tidak lagi sekadar pusat kuliner, tetapi juga berubah menjadi panggung sosial, tempat orang mengalami sekaligus menampilkan pengalaman berbuka mereka,” tutur Devie.

Media sosial berperan besar dalam membentuk fenomena ini. Algoritma platform digital mengangkat konten yang visualnya menarik atau berbeda, menciptakan efek viral yang memperkuat minat publik untuk mencoba.

Dalam ilmu komunikasi, kondisi ini dikenal sebagai attention economy, ketika popularitas suatu produk ditentukan oleh perhatian dan percakapan di ruang digital.

”Namun yang menarik, viralitas bukan segalanya. Riset juga menunjukkan bahwa meskipun Gen Z tertarik pada tren viral, mereka tetap mempertimbangkan faktor rasional seperti harga, rasa, dan kemudahan akses,” ujar Devie.

Artinya, viralitas mungkin hanya membuat orang datang untuk pertama kali, tetapi pengalaman nyata yang memuaskanlah yang menentukan mereka akan kembali.

Inilah yang disebut sebagai experience economy, ketika nilai suatu produk tidak hanya terletak pada barangnya, tetapi pada pengalaman yang dirasakan konsumen.

Jadi, sudahkah mencoba aneka takjil dan makanan kekinian di Jakarta?

Baca JugaMenyusuri Kenangan di Blok M Hub, Wajah Baru Tempat Berkumpulnya Warga Jakarta 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
67 Tentara Kuwait Terluka dalam Serangan Pembalasan Iran
• 14 jam laludetik.com
thumb
Pemenang Tender Proyek WtE Siap Diumumkan, Danantara Terapkan Seleksi Ketat
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Speed Boat Pecah Dihantam Ombak di Perairan Muara Telang, Satu Penumpang Tewas
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Pecahkan Rekor Dunia, Rizki Juniansyah Terima Pengakuan Resmi Guinness World Records
• 46 menit laluviva.co.id
thumb
Alarm Campak di Indonesia: 8.372 Kasus Terkonfirmasi dan 6 Anak Meninggal, Mayoritas Belum Pernah Imunisasi
• 46 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.