FAJAR, JAKARTA — Pengukuhan Guru Besar di lingkungan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan berlangsung di Auditorium dr. Herman Soesilo, MPH, Gedung Direktorat Jenderal SDM Kesehatan lantai 4, Jalan Hang Jebat 3 F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dalam prosesi tersebut, sebanyak enam akademisi dikukuhkan sebagai Guru Besar di lingkungan Poltekkes Kemenkes. Salah satunya berasal dari Poltekkes Kemenkes Makassar, Jurusan Fisioterapi, yakni Prof. Dr. Hendrik, SH, S.ST.Ft., M.Kes.
Prof. Dr. Hendrik, SH, S.ST.Ft., M.Kes menyampaikan pidato berjudul “Kelelahan Otot sebagai Salah Satu Faktor Determinan Terjadinya Gangguan Sistem Muskuloskeletal.”
Pidato tersebut menyoroti meningkatnya kasus gangguan sistem muskuloskeletal (GSK) yang justru masih tinggi meskipun kualitas layanan kesehatan dan tenaga kesehatan terus ditingkatkan.
Ia menjelaskan, secara teori peningkatan kualitas pelayanan kesehatan seharusnya diikuti dengan menurunnya berbagai masalah kesehatan.
Namun dalam kenyataannya, gangguan muskuloskeletal justru masih banyak ditemukan, bahkan dominan terjadi pada pekerja kantoran, sektor industri, hingga tenaga kesehatan profesional.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi kegelisahan tersendiri bagi para akademisi dan praktisi kesehatan karena apa yang diajarkan di ruang akademik sering kali berbeda dengan kondisi nyata di lapangan.
Dalam paparannya, ia mengungkapkan terdapat lima faktor utama penyebab penyakit akibat kerja, yakni faktor fisik, kimia, biologis, ergonomis atau fisiologis, serta faktor psikososial. Dua faktor terakhir disebut masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya mampu diatasi oleh negara manapun.
Penelitian yang dilakukan berfokus pada pekerja yang banyak menggunakan lengan dan tangan secara intensif, seperti operator komputer dan profesi kesehatan gigi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelelahan otot dapat memicu peningkatan kadar asam laktat dalam darah serta menurunkan kemampuan kontraksi otot. Kondisi tersebut terjadi akibat kontraksi otot yang berlangsung terus-menerus sehingga menekan pembuluh darah dan menghambat aliran darah.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa posisi sendi bahu dan siku memiliki pengaruh besar terhadap kelelahan otot, sementara faktor tinggi dan berat badan turut memberi pengaruh tidak langsung. Dalam kesimpulannya, ia menekankan bahwa kelelahan otot sering kali dianggap sebagai kondisi biasa sehingga kerap diabaikan.





