Dua koridor bus rapid trasit atau BRT untuk melayani kawasan aglomerasi Medan, Binjai, dan Deli Serdang di Sumatera Utara direncanakan beroperasi tahun ini. Rute itu akan terintegrasi dengan lima koridor BRT yang sudah beroperasi di Kota Medan. Perluasan cakupan diharapkan bisa mengajak pengguna angkutan pribadi beralih ke transportasi publik.
“Tahun ini akan dioperasikan 30 bus listrik untuk melayani dua koridor, yakni Medan-Lubuk Pakam (Deli Serdang) dan Medan-Binjai,” kata Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Rochani Litiloly, di Medan, Jumat (6/3/2036).
Rochani mengatakan, BRT untuk kawasan Medan, Binjai, Deli Serdang (Mebidang) akan beroperasi dengan sistem pembelian layanan dari operator swasta (buy the service/BTS). Operasional dua koridor itu akan dibiayai Pemerintah Provinsi Sumut.
Saat ini, Kementerian Perhubungan juga tengah membangun infrastruktur pendukung untuk dua koridor itu dengan skema pembiayaan bersumber dari pinjaman Bank Dunia.
Infrastruktur itu berupa depo pengecasan dan perawatan mobil listrik yang akan dibangun di Binjai dan Lubuk Pakam. Selain itu, Kemenhub juga membangun halte di sepanjang dua koridor tersebut.
Koridor Medan-Binjai akan membentang dari Kota Binjai sampai Halte Medan Fair di Jalan Gatot Subroto, Medan. Sementara, Koridor Medan-Lubuk Pakam membentang dari Lubuk Pakam hingga ke Halte Pelangi di Jalan Sisingamangaraja.
Halte Pelangi dan Medan Fair terintegrasi langsung dengan BRT Medan. Halte Medan Fair akan menjadi pusat transit di sisi barat Kota Medan.
“Halte ini akan menjadi ikon transportasi publik Mebidang,” kata Rochani. Mebidang adalah akronim dari kawasan aglomerasi Medan-Binjai-Deli Serdang.
Tenaga Ahli Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba mengatakan, berdasarkan kajian Bank Dunia dan Kemenhub, transportasi publik di Mebidang membutuhkan 10 koridor di dalam Kota Medan dan dua koridor untuk menghubungkan Medan dengan kawasan Kota Binjai dan Lubuk Pakam.
Saat ini, baru lima koridor yang sudah beroperasi di Kota Medan, yakni Pinang Baris-Lapangan Merdeka, Terminal Amplas-Lapangan Merdeka, Belawan-Lapangan Merdeka, Medan Tuntungan-Lapangan Merdeka, dan Tembung-Lapangan Merdeka. BRT di Medan telah dilayani bus listrik dalam beberapa tahun terakhir.
Darwin menyebut, BRT menjadi lompatan yang sangat penting dalam pengembangan transportasi publik di kawasan Mebidang. Sebelum ada BRT, Kota Medan dan sekitarnya hanya dilayani oleh angkutan kota berupa minibus, becak bermotor, taksi reguler, taksi daring, hingga ojek daring.
Spesifikasi angkutan umum itu seharusnya hanya sebagai angkutan pengumpan, tidak menjadi angkutan di jalur utama. Akibatnya, sebagian besar para pelaju menggunakan angkutan pribadi berupa sepeda motor dan mobil pribadi.
Berdasarkan data Kemenhub, di kawasan Mebidang, ada 386.727 pelaju setiap hari. Namun, penggunaan transportasi publik di Mebidang masih di bawah 20 persen.
Darwin menyebut, transportasi publik akan semakin diminati jika cakupannya semakin luas dan mempunyai sistem angkutan utama, pengumpan, dan lokal.
Ketua Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia Sumut Burhan Batubara mengatakan, transportasi publik sangat mendesak dibangun di Mebidang. Di kawasan ini, tingkat mobilitas penduduk amat tinggi dan didominasi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.
Akibatnya, kemacetan lalu lintas mendekati titik kritis. Untuk itu, konsep BRT harus benar-benar diterapkan agar masyarakat memiliki bisa berpindah dari kendaraan pribadinya ke transportasi publik.
Burhan mendorong pemerintah daerah membuat kebijakan sejalan dengan pembangunan transportasi publik. Pembangunan gedung parkir raksasa di Lapangan Merdeka, misalnya, seharusnya tidak dilakukan Pemko Medan.
Area parkir itu dapat memicu orang makin antusias menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Padahal, Lapangan Merdeka direncanakan menjadi kawasan pembangunan berorientasi transit.
Membangun kebiasaan warga menggunakan transportasi publik tidak hanya cukup dengan menyediakan infrastrukturnya saja. Kebijakan yang saling mendukung penting agar keberadaannya benar-benar bisa dimanfaatkan warga.





