Dua emiten tambang batu bara nasional telah melaporkan kinerja keuangan 2025. Keduanya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Dari laporan itu, diketahui bahwa performa keuangan dua perusahaan tersebut mengalami penurunan secara tahunan.
Perinciannya, laba bersih ITMG anjlok hampir 50% menjadi US$ 190,94 juta. Sementara laba bersih BYAN longsor 16,77% menjadi US$ 767,91 juta.
Sepanjang 2025, harga batu bara juga mengalami penurunan 23,01% dari US$ 124,01 per ton menjadi US$ 100,81% per ton.
Emiten konglomerat Low Tuck Kwong mencetak laba bersih senilai US$ 767,91 juta atau setara dengan Rp 12,83 triliun (kurs Rp 16.720 terhadap dolar AS) sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut merosot 16,77% jika dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada 2024 senilai US$ 922,64 juta.
Tak hanya itu, pendapatan perseroan juga tercatat turun menjadi US$ 3,42 miliar dari US$ 3,44 miliar secara tahunan atau year on year (YoY). Sementara itu, beban pokok pendapatan justru meningkat menjadi US$ 2,32 miliar dari US$ 2,11 miliar YoY.
Beban lainnya justru menunjukkan penyusutan. Misalnya beban penjualan berkurang dari US$ 31,12 juta menjadi US$ 38,79 juta, dan beban umum dan administrasi berkurang menjadi US$ 72,80 juta dari US$ 81,26 juta YoY. Begitu pula dengan beban keuangan yang turun menjadi US$ 8,69 juta dari US$ 17,83 juta secara tahunan.
Dengan menurunnya laba bersih perseroan, alhasil laba bersih per lembang saham yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan ikut berkurang menjadi US$ 0,023 dari US$ 0,028 per saham.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BYAN ditutup anjlok 4,67% atau 625 poin ke level 12.750. Dalam tiga bulan terakhir, harga sahamnya merosot 28,27%.
Adapun Low Tuck Kwong disebut-sebut sebagai raja batu bara Indonesia. Merujuk data Forbes Billionaires per Jumat (6/3), nama Low berada di posisi ketiga sebagai orang terkaya di Indonesia. Harta kekayaannya mencapai US$ 18,6 miliar atau setara dengan Rp 314,79 trilliun.
Selain BYAN, Low memiliki perusahaan tambang batu bara lainnya yaitu PT Samindo Resources Tbk (MYOH).
Laba Bersih ITMG Anjlok 49%Sementara itu, sepanjang 2025 Sepanjang 2025, ITMG membukukan laba bersih sebesar US$ 190,94 juta atau sekitar Rp 3,19 triliun. Nilai tersebut anjlok 49,19% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar US$ 374,11 juta.
Pendapatan perseroan juga menurun menjadi US$ 1,88 miliar dari US$ 2,30 miliar secara tahunan. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan batu bara kepada pihak ketiga sebesar US$ 1,84 miliar, dan pihak berelasi US$ 18,19 juta. Selain itu, perseroan mencatat pendapatan dari jasa kepada pihak ketiga sebesar US$ 4,64 juta serta keuntungan transaksi swap batu bara senilai US$ 10,56 juta.
Beberapa pelanggan utama ITMG antara lain China Bai Gui International Trade Ltd dengan nilai transaksi US$ 213,02 juta dan Marubeni Corporation sebesar US$ 188,36 juta. Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan turut turun menjadi US$ 1,39 miliar dari US$ 1,60 miliar pada periode sebelumnya.
Adapun laba bersih perseroan tertekan akibat kenaikan sejumlah beban, di antaranya beban umum dan administrasi yang meningkat dari US$ 37,09 juta menjadi US$ 44,90 juta, serta beban keuangan yang naik dari US$ 4,05 juta menjadi US$ 11,12 juta.
Akibatnya, laba per saham ITMG ikut turun menjadi US$ 0,17 per saham, dari sebelumnya US$ 0,33 per saham.
Berbeda dengan BYAN, harga saham ITMG justru ditutup naik 3,85% atau naik 1.000 poin ke level 26.975 per saham. Dalam tiga bulan terakhir, harga sahamnya melaju 22,61% ke level 26.975.




