Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah lapangan kerja di AS turun sebanyak 92.000 sepanjang Februari 2026, dan tingkat pengangguran naik jadi 4,4%.
Dilansir dari BBC, ini merupakan kontraksi tak terduga yang memicu pertanyaan apakah pasar tenaga kerja di AS mungkin mulai retak.
Angka ini, menandai kehilangan pekerjaan bulanan terbesar sejak Oktober, ketika pemerintah AS mengalami shutdown, dan terjadi di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak yang dipicu oleh perang AS-Israel di Iran dapat mengancam pertumbuhan.
Hampir setiap sektor mengalami pengurangan jumlah karyawan, termasuk sektor kesehatan, yang biasanya menjadi sumber kekuatan, namun terpukul oleh pemogokan bulan lalu.
Jumlah pegawai di pemerintahan federal juga terus menurun, menyusut sebanyak 10.000 orang bulan lalu. Sejak mencapai puncaknya pada Oktober 2024, jumlah pegawai pemerintah federal telah turun sebanyak 330.000 orang, atau 11%, menurut Departemen Tenaga Kerja.
Dilansir dari NBC News, jumlah tenaga kerja di sektor perawatan kesehatan menurun pada bulan Februari, yang menurut BLS mencerminkan pemogokan besar-besaran. Pemogokan tersebut, di Kaiser Permanente, untuk sementara waktu membuat sekitar 31.000 orang tidak dapat bekerja.
Baca Juga
- Usai Bertemu Prabowo di Hambalang, Apindo Bahas Perluas Lapangan Kerja
- Prabowo Audiensi dengan Apindo, Ajak Pengusaha Ciptakan Lapangan Kerja
- Prabowo Targetkan MBG Cakup 82 Juta Penerima dan Buka 1 Juta Lapangan Kerja
Meskipun hanya bersifat sementara, kehilangan pekerjaan tersebut menggarisbawahi bagaimana sektor kesehatan merupakan pendorong utama peningkatan lapangan kerja di AS yang tercatat tahun lalu.
Sektor teknologi informasi, pemerintah federal, serta transportasi dan pergudangan juga menunjukkan pelemahan, menurut data hari Jumat.
BLS menyatakan bahwa sejumlah industri lain menunjukkan "sedikit perubahan," termasuk sektor minyak dan gas, manufaktur, konstruksi, ritel, dan industri keuangan.
Para ekonom memperkirakan perekonomian akan menambah 50.000 lapangan kerja dan angka pengangguran akan tetap di 4,3%.
Laporan tersebut merevisi turun angka penggajian bulan Januari yang sebelumnya sangat bagus dari 130.000 menjadi 126.000. Badan tersebut juga memangkas angka bulan Desember dari penambahan 50.000 pekerjaan menjadi kontraksi sebesar 17.000.
Dengan revisi tersebut, tahun 2025 menjadi tahun pertama yang mencatat lima bulan kontraksi pasar tenaga kerja sejak tahun 2010, ketika ekonomi sedang pulih dari krisis keuangan global.





