BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Sejumlah daerah di Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, diterjang banjir setelah hujan deras mengguyur selama selama lebih dari dua jam. Tiga orang dilaporkan hanyut terseret banjir, satu di antaranya sudah ditemukan dalam kondisi meninggal.
Pada Jumat (6/3/2026), hujan deras mengguyur Kota Bandar Lampung sejak pukul 14.00 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung juga telah mengeluarkan peringatan dini dampak hujan deras di Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Dari laporan BMKG, pada pukul 15.20, curah hujan yang mengguyur Kota Bandar Lampung mencapai 60,8 milimeter.
Sementara curah hujan di Kabupaten Lampung Selatan mencapai 117,2 milimeter pada waktu yang bersamaan. Sejak laporan peringatan dini dari BMKG dikeluarkan, hujan deras terus mengguyur Kota Bandar Lampung dan Lampung Selatan hingga Jumat petang.
Setelah hujan deras tersebut, banjir dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Bandar Lampung, antara lain di Kecamatan Rajabasa, Way Halim, Kedaton, Sukarame, Tanjung Karang Timur, dan sejumlah daerah di wilayah lain. Adapun di Lampung Selatan, banjir melanda Kecamatan Jati Agung dan Natar.
Berdasarkan laporan sejumlah warga, ketinggian banjir mencapai lebih dari 1 meter. Dari video yang beredar di media sosial, sejumlah warga sampai harus mengungsi ke atap rumah karena khawatir banjir semakin tinggi.
Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Wahyu Hidayat mengatakan, hingga Jumat petang, pihaknya menerima laporan adanya tiga warga hanyut terseret banjir. Dua orang merupakan warga Kota Bandar Lampung. Sementara satu orang lainnya merupakan warga Lampung Selatan.
“Satu orang ditemukan dalam kondisi meninggal di sungai. Sementara dua orang lainnya masih dalam pencarian,” kata Wahyu saat dikonfirmasi, Jumat malam.
Menurut dia, korban meninggal yang sudah ditemukan adalah seorang laki-laki dewasa yang bernama Sayuda. Saat ini, BPBD Lampung terus menghimpun laporan untuk mengetahui secara detail identitas korban meninggal serta dua korban lain yang masih dalam pencarian. Dari informasi sementara, dua korban yang masih hilang adalah anak-anak.
Laporan yang dihimpun BPBD Lampung, hingga Jumat malam, setidaknya ada 38 titik banjir di Bandar Lampung. Sejumlah lokasi dilaporkan sudah mulai surut.
Fida (40), warga Sukarame, Bandar Lampung, mengatakan, banjir hampir selalu terjadi setiap kali hujan deras mengguyur Kota Bandar Lampung selama lebih dari dua jam. “Air cepat sekali naik sampai ke jalan dan masuk ke rumah warga. Sore ini, dimana-mana dikepung banjir,” katanya.
Pada Jumat sore, Fida sempat keluar rumah untuk mencari takjil berbuka puasa. Namun, di tengah perjalanan, kendaraanya dikepung genangan banjir. Kemacetan lalu lintas pun tak terhindarkan.
Dia menyayangkan belum adanya upaya serius dari pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mengatasi persoalan banjir di Bandar Lampung. Setiap kali hujan deras, masyarakat selalu was-was terjadi banjir.
Secara terpisah, Kepala Bidang Damkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lampung Selatan Rully Fikriansyah menuturkan, pihaknya menerima laporan terjadinya banjir di sejumlah desa di Kecamatan Jati Agung. Sejumlah desa yang dilanda banjir, yakni Desa Karang Anyar, Way Huwi, Jati Mulyo, Fajar Baru, dan Gedung Harapan, dan Margodadi.
“Sementara ini, tindakan kami bersama Basarnas Lampung dan BPBD Lampung Selatan melakukan evakuasi masyarakat yang terjebak di dalam kendaraan atau genangan banjir. Selanjutnya, kami akan mengevakuasi masyarakat di perumahan di Desa Gedung Harapan yang dilanda banjir,” katanya.
Hingga Jumat malam, jumlah korban yang terdampak banjir di Kota Bandar Lampung maupun Kabupaten Lampung Selatan masih didata. BPBD Lampung juga tengah memantau perkembangan cuaca ekstrem di sejumlah kabupaten lainnya di Lampung.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung Selatan Nanang Buchori menjelaskan, dari analisis BMKG, hujan deras yang mengguyur Lampung pada Jumat dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer dan kondisi oseanografi yang mendukung proses pembentukan awan konvektif secara intensif. Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif di wilayah Lampung berperan dalam meningkatkan suplai uap air dan memperkuat aktivitas konveksi di wilayah tersebut.
Kondisi ini semakin diperkuat oleh adanya pola konvergensi angin yang tepat berada di atas wilayah Lampung sehingga menyebabkan akumulasi massa udara dan memicu pertumbuhan awan konvektif yang signifikan. Dari sisi kondisi laut, anomali suhu muka laut yang bernilai positif di Perairan Timur Lampung turut meningkatkan proses penguapan yang berkontribusi terhadap ketersediaan uap air di atmosfer.
Selain itu, profil kelembapan udara yang relatif basah dari lapisan 850 mb hingga 500 mb menunjukkan lingkungan atmosfer yang sangat mendukung pembentukan awan hujan yang tebal dan berkembang secara vertikal. Analisis indeks labilitas atmosfer juga menunjukkan kondisi atmosfer yang labil sehingga memudahkan terjadinya proses konveksi kuat.
Hal tersebut terkonfirmasi dari pengamatan radar cuaca yang menunjukkan nilai reflektivitas maksimum mencapai 55 dBZ pada pukul 14.05 WIB, yang mengindikasikan keberadaan sel awan konvektif dengan intensitas hujan lebat.
Sementara itu, suhu puncak awan yang mencapai −68,3°C menunjukkan pertumbuhan awan konvektif yang sangat tinggi dan tebal. Aktivitas konvektif yang kuat ini juga ditandai dengan deteksi sebanyak 60 kejadian petir pada periode pukul 14.20 WIB hingga 15.55 WIB, yang mengindikasikan adanya badai guntur aktif yang berkontribusi terhadap terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dalam durasi tertentu sehingga memicu kejadian banjir di beberapa wilayah Kota Bandar Lampung.





