Dunia kontemporer apabila dicermati secara saksama tidak sedang menghadapi konflik linear; dunia sedang terjebak dalam sebuah teater operasi yang serupa dengan narasi dalam sebuah serial drama Korea Selatan tahun 2014 berjudul Doctor Stranger.
Dalam drama tersebut, keahlian medis dari sosok Park Hoon tidak dipakai untuk tujuan menyembuhkan, tetapi digunakan sebagai sandera kepentingan politik elite yang haus akan instabilitas.
Paralel dengan hal tersebut, proyeksi kekuatan militer AS dan Israel di Timur Tengah kerap dibungkus dengan retorika "stabilisasi", padahal secara substansial hal itu merupakan tindakan "pembedahan" kedaulatan negara lain.
Pangkalan militer yang tersebar bukan sekadar infrastruktur logistik, melainkan juga "skalpel" geopolitik yang ditanam untuk memastikan tubuh dunia tetap berada dalam kondisi kritis yang terkendali.
Anatomi Divide et Impera Modern dan "Mantra" PangkalanPenempatan pangkalan militer AS di wilayah kedaulatan asing merupakan implementasi dari strategi offensive realism. John Mearsheimar (2014) dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics menegaskan bahwa kekuatan besar tidak akan pernah puas dengan status quo. Mereka senantiasa mengejar hegemoni regional sebagai mekanisme pertahanan terbaik.
Namun, di sini letak "trik licik" tersebut: AS menciptakan kebutuhan akan keamanan di antara negara-negara Arab dengan membesar-besarkan "ancaman Iran", kemudian menawarkan diri sebagai satu-satunya "dokter" yang mampu memberikan perlindungan.
Ini adalah bentuk divide et impera yang canggih. Kehadiran pangkalan militer di wilayah tetangga Iran berfungsi untuk mengunci otonomi strategis, di mana negara tuan rumah kehilangan hak veto atas wilayahnya sendiri saat kepentingan nasional AS membutuhkan titik luncur serangan.
Di samping itu, provokasi terukur dilakukan dalam rangka menjaga agar Iran tetap dalam kondisi paranoid secara strategis, sehingga sumber daya Iran habis untuk penguatan militer daripada pembangunan ekonomi.
Selain itu, hal tersebut bertujuan sebagai fragmentasi regional dalam menghambat terbentuknya arsitektur keamanan kolektif mandiri di Timur Tengah tanpa campur tangan Barat.
Deformasi dari Malapraktik GlobalDalam Doctor Stranger, keberhasilan Park Hoon menyelamatkan nyawa pemimpin Korea Utara memicu sorak-sorai di Korea Selatan. Fenomena ini bersifat paradoks: rakyat bersyukur bukan karena cinta pada musuh, melainkan karena mereka tahu bahwa "kematian pasien" berarti peluncuran rudal nuklir yang akan memusnahkan mereka semua. Logika pragmatis inilah yang diambil oleh pemerintah Spanyol.
Keputusan Madrid untuk melarang wilayahnya menjadi pangkalan militer dalam serangan terhadap Iran adalah manifestasi dari kebijakan otonomi strategis. Kenneth Waltz dalam theory of international politics menjelaskan bahwa negara-negara akan cenderung melakukan penyeimbangan daripada ikut-ikutan jika perilaku negara hegemon dianggap mengancam keamanan sistemik.
Spanyol menyadari bahwa memberikan izin pangkalan adalah bentuk "malapraktik" yang akan mengundang serangan balasan asimetris ke jantung Eropa. Spanyol memilih untuk tidak menjadi "asisten bedah" dalam operasi militer yang cacat hukum internasional tersebut.
Hegemoni sebagai "Eye of Agamotto" yang RusakPerang yang terjadi ini merupakan sebuah sirkus besar di mana para pemainnya mengenakan topeng moralitas, tetapi menyembunyikan belati di balik punggung.
AS dan Israel bertindak seolah memiliki "Eye of Agamotto"—istilah dalam komik Marvel yang ditulis oleh Stan Lee dan Steve Ditko—kemampuan untuk memanipulasi waktu dan hasil akhir peperangan, tanpa peduli pada kerusakan dimensi yang diakibatkannya.
Kecaman internasional terhadap keterlibatan pangkalan militer di wilayah berdaulat adalah bukti bahwa "mantra" hegemoni mulai kehilangan kredibilitasnya.
Sebagaimana Robert Gilpin dalam War and Change in World Politics ingatkan, biaya untuk mempertahankan hegemoni melalui militerisasi sering kali melampaui manfaatnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan keruntuhan struktural bagi sang hegemon itu sendiri.
Langkah Spanyol adalah lonceng peringatan bahwa negara-negara menengah mulai lelah menjadi pion dalam "mirror dimension" yang diciptakan Washington.
Menuju Kedaulatan yang SejatiPerang AS-Israel vs Iran bukan sekadar benturan fisik, melainkan juga perang memperebutkan hak atas kedaulatan ruang. Strategi pangkalan militer yang provokatif adalah bentuk pengkhianatan terhadap norma internasional.
Sebagaiman Park Hoon yang akhirnya menyadari bahwa integritas medisnya lebih tinggi dari perintah konspirator, negara-negara dunia harus menyadari bahwa kedaulatan mereka tidak boleh dikomersialkan untuk ambisi perang pihak lain.
Sikap tegas Spanyol harus dipandang sebagai standar baru dalam diplomasi global: menolak menjadi bagian dari mesin perang adalah bentuk tertinggi dari pemeliharaan perdamaian.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak "dokter bedah" yang membawa bom ke ruang operasi. Dunia membutuhkan keberanian diplomatik untuk mengakhiri siklus provokasi ini sebelum seluruh dimensi keamanan global hancur tanpa sisa.





