DOHA, KOMPAS.TV - Menteri Energi Qatar, Saad Al-Kaabi menyatakan, perang Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran dapat "menjatuhkan ekonomi dunia."
Alasannya, perang tersebut dapat menghentikan produksi minyak di negara-negara Teluk Arab.
Perang yang diluncurkan AS dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) lalu disebutnya mengganggu produksi dan distribusi minyak dari Teluk Arab. Kawasan ini dikenal sebagai pemain kunci dalam rantai pasok energi dunia.
Dalam wawancara bersama The Financial Times via Al Jazeera, Jumat (6/3), Saad Al-Kaabi memprediksi negara-negara di Teluk Arab akan menghentikan produksi dalam waktu beberapa pekan.
Penghentian produksi disebutnya akan membuat harga minyak dunia meroket hingga 150 dolar AS per barel.
Sebagai catatan, menurut data Bloomberg, harga minyak terbaru ada di angka 88,05 dolar AS per barel untuk minyak mentah WTI, sedangkan minyak mentah Brent mencapai 90,21 dolar AS per barel.
Baca Juga: Bahlil Jamin Stok BBM dan LPG Aman hingga Lebaran, Pastikan Harga Tak Ada Kenaikan
Saad Al-Kaabi menyampaikan pesimisme mengenai pemulihan distribusi energi pascaperang.
Menurutnya, bagi Qatar, dibutuhkan waktu "berpekan-pekan hingga berbulan-bulan" untuk mencapai siklus distribusi energi normal setelah perang berhenti.
Diberitakan KompasTV sebelumnya, pemerintah RI telah menyampaikan antisipasi kenaikan harga minyak akibat perang AS-Israel di Iran.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- perang iran
- harga minyak dunia
- qatar
- produksi minyak teluk arab
- serangan as israel ke iran





