jabar.jpnn.com, BOGOR - Front Pembela Islam (FPI) menitipkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto yang berisi permintaan agar Indonesia menarik diri dari Board of Peace (BoP).
Permintaan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Majelis Syura DPP Front Pembela Islam, Habib Hanif Alatas, setelah menghadiri undangan berbuka puasa bersama Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3) malam.
BACA JUGA: Menu MBG Ramadan Menuai Protes, Sufmi Dasco Pastikan DPR Mengawasi
“Memang tadi kami belum mendapat kesempatan berbicara secara langsung, tetapi kami menitipkan surat kepada Presiden. Dalam surat itu kami tetap meminta agar Republik Indonesia menarik diri dari BoP,” ujar Habib Hanif.
Menurut Habib Hanif, permintaan tersebut didasarkan pada ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat dan Israel, yang dinilai memiliki rekam jejak buruk dalam berbagai konflik internasional.
BACA JUGA: Soal Stok BBM Nasional 20 Hari, Sufmi Dasco Minta Masyarakat Tetap Tenang
Ia menyatakan bahwa meskipun pihaknya menghargai niat baik pemerintah Indonesia, keterlibatan dalam BoP dikhawatirkan dapat menimbulkan persoalan baru, termasuk kemungkinan pasukan Indonesia berhadapan dengan pejuang Palestina di Gaza Strip.
“Kami percaya iktikad baik Presiden Republik Indonesia, tetapi kami tidak percaya Amerika dan Israel. Kami khawatir keterlibatan Indonesia justru menimbulkan masalah baru,” kata Hanif.
BACA JUGA: Perbandingan Kekayaan Rudy Susmanto Sebelum dan Sesudah Menjabat Bupati Bogor
Habib Hanif menegaskan bahwa FPI tidak menolak jika Indonesia mengirimkan pasukan untuk membantu perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, pihaknya menolak jika pasukan tersebut berada di bawah komando Amerika Serikat.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memicu konfrontasi apabila pasukan Indonesia harus melucuti senjata kelompok pejuang Palestina di Gaza.
“Kalau pasukan dikirim untuk membantu memerdekakan Palestina, kami mendukung. Bahkan kami siap mengirim relawan. Namun jika berada di bawah komando Amerika dan harus melucuti senjata para pejuang di Gaza, itu yang kami tidak inginkan,” ujarnya.
Habib Hanif menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo menjelaskan keterlibatan Indonesia dalam BoP bertujuan memberikan kontribusi lebih besar dalam upaya mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Menurut Hanif, Presiden juga menyatakan kemungkinan menarik diri dari BoP apabila dinilai tidak memberikan manfaat bagi Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia.
“Presiden menyampaikan bahwa jika tidak ada kemaslahatan bagi Palestina atau tidak sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia, maka Indonesia dapat menarik diri,” kata Hanif.
Selain membahas BoP, FPI juga meminta Presiden Prabowo menyampaikan secara terbuka ucapan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Habib Hanif menyebut permintaan tersebut merupakan amanat dari Rizieq Shihab, yang tidak dapat hadir dalam acara tersebut.
Menurutnya, Iran merupakan negara sahabat bagi Indonesia sehingga diharapkan pemerintah dapat menunjukkan sikap empati secara terbuka.
“Kami meminta agar Presiden menyampaikan belasungkawa secara terbuka, bukan hanya melalui Menteri Luar Negeri,” katanya.
Acara berbuka puasa bersama tersebut digelar di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta dan dihadiri oleh sejumlah ulama serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Miftachul Akhyar, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir, serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar.
Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih juga turut hadir, di antaranya Muhaimin Iskandar, Saifullah Yusuf, dan Nasaruddin Umar.
Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB dan menjadi ajang silaturahmi antara pemerintah dengan para ulama serta tokoh organisasi Islam. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yogi Faisal (mar7)




