VIVA – Upaya memperkuat hilirisasi mineral dan batu bara nasional terus didorong melalui pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pendekatan ini dinilai penting untuk menciptakan nilai tambah industri sekaligus memperluas manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Corporate Secretary holding MIND ID, Pria Utama, mengatakan integrasi berbagai inisiatif hilirisasi menjadi faktor penting agar pengelolaan sumber daya mineral tidak berhenti pada aktivitas penambangan semata.
“Integrasi ini penting agar pengelolaan sumber daya mineral tidak berhenti pada aktivitas penambangan, tetapi mampu menciptakan nilai tambah industri yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Pria dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa pada sektor hulu, praktik pertambangan yang baik diterapkan sejak tahap pra-penambangan, proses penambangan, hingga pascatambang. Pendekatan tersebut dilakukan agar kegiatan operasional tetap sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan serta perlindungan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah kerja.
Menurutnya, perlindungan ekosistem menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Di sisi hilir, sejumlah proyek strategis juga tengah dikembangkan untuk memperkuat rantai nilai industri mineral nasional. Beberapa di antaranya meliputi pembangunan fasilitas Module & Pack Plant serta Cell Plant Indonesia Battery Corporation di Karawang yang menjadi bagian dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Selain itu, terdapat pula proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta pengembangan infrastruktur logistik batu bara di koridor Tanjung Enim–Kramasan.
Penguatan hilirisasi tersebut dinilai sejalan dengan tren investasi nasional. Pada 2025, sektor hilirisasi tercatat menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis sumber daya alam menjadi salah satu penggerak penting dalam transformasi ekonomi Indonesia.
Selain peningkatan nilai tambah industri, hilirisasi juga dinilai memberikan dampak lain, seperti penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan penerimaan daerah, serta pembangunan infrastruktur di wilayah operasional.
Sejumlah program pemberdayaan usaha mikro dan kecil (UMK), peningkatan akses layanan kesehatan, serta penguatan pendidikan masyarakat juga dijalankan agar pertumbuhan industri dapat berlangsung secara inklusif.





