JAKARTA, DISWAY.ID -- Kasus bird strike atau tabrakan pesawat dengan burung serta satwa liar yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Lion Air Group mendorong industri penerbanhan untuk memperkuat mitigasi.
BACA JUGA:Richard Lee Ditahan Polda Metro atas Laporan Dokter Detektif!
BACA JUGA:Penyebab Istri Tega Renggut Nyawa Suami di Tigaraksa Masih Gelap
CEO Lion Group, Daniel Putut Kuncoro Adi, mengatakan, persoalan ersebut tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.
Ia menilai seluruh pemanvku kepentingan di sektor penerbangan harus terlibat dalam upaya pencegahan.
"Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan harus terlibat aktif dalam upaya mitigasi insiden bird srtike ini demi menjaga keselamatan penerbangan," ujar Daniel di Bandara Soekarno Hatta, Jumat, 6 Maret 2026.
Isu tersebut juga disampaikan Daniel dalam forum diskusi Aviation Sharing Session yang melibatkan operator penerbangan serta pemangku kepentingan di Kementerian Perhubungan pada Kamis, 5 Maret 2026.
BACA JUGA:Kadin Nilai Program MBG Berpotensi Ciptakan Pasar Baru Sektor Pangan
Berdasarkan data internal Lion Group, kasus bird strike sempat berada pada tingkat yang relatif rendah dalam periode 2012 hingga 2021. Namun tren tersebut mulai berubah sejak 2022 dengan peningkatan yang cukup signifikan.
Pada 2023, jumlah insiden bahkan melonjak tajam. Meskipun sempat mengalami penurunan pada 2024, penurunan itu tidak berlangsung lama.
"Pada 2025 jumlah kejadian justru mencapai titik tertinggi selama periode," ucapnya.
Sementara pada 2026, insiden bird srike masih terus terjadi. Menurut Daniel, tren kenaikan ini tidak hanya dialami oleh Lion Group. Sejumlah maskapai lain juga menghadapi persoalan yang sama.
BACA JUGA:Surat Resmi Keluar! BAZNAS Tegaskan Tak Ada Dana Zakat untuk Biayai Program MBG
"Karena itu, masalah bird strike harus menjadi perhatian bersama seluruh pelaku industri penerbangan," ucapnya.
- 1
- 2
- 3
- »





