Bisnis.com, JAKARTA — PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengakui adanya hambatan ekspor mobil ke Timur Tengah, akibat konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS).
Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto mengatakan, meskipun jalur logistik mengalami gangguan, perseroan tetap menjaga komitmennya untuk memenuhi pengiriman ekspor kendaraan kepada para importir di kawasan Timur Tengah.
“Sampai saat ini, komitmen kami dengan importir tidak ada perubahan, hanya masalahnya adalah logistik terganggu sehingga saat ini kita tetap produksi normal sesuai dengan order, tapi shipping atau pengapalan melihat situasi,” ujar Nandi di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Perlu diketahui, Toyota mengekspor sejumlah model kendaraan ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa pasar tujuan tersebut, antara lain Irak, Lebanon, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, serta Kuwait yang secara geografis berada relatif dekat dengan wilayah konflik tersebut.
Alhasil, perseroan masih mempelajari sejumlah rute alternatif untuk pengiriman kendaraan utuh (completely built up/CBU) ke kawasan Timur Tengah di tengah gangguan jalur logistik. Meski demikian, ekspor komponen kendaraan dipastikan tetap berjalan karena pengirimannya menggunakan jalur udara.
“Karena kapal sekarang tidak ada yang jalan ke sana. Jadi, kami saat ini sedang studi rute-rute baru. Tettapi kalau spare part sekarang kami kirim lewat udara,” jelasnya.
Baca Juga
- Bos Toyota (TMMIN): Perang Timur Tengah Bisa Picu Krisis Semikonduktor
- Toyota (TMMIN) Ungkap Dampak Konflik Iran vs Israel-AS ke Kinerja Ekspor
- Toyota Urban Cruiser EV Bakal Diproduksi Lokal? Ini Kata Bos TMMIN
Menurutnya, saat ini pasar ekspor terbesar perseroan masih berasal dari kawasan Asean dan Amerika Latin. Sementara itu, kontribusi ekspor ke kawasan Timur Tengah diperkirakan berada di kisaran 17%–20% dari total pengiriman kendaraan ke luar negeri.
Adapun, dampak yang lebih signifikan berisiko muncul apabila konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia sehingga mengganggu stabilitas perekonomian negara-negara pengimpor. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan daya beli sekaligus memengaruhi permintaan kendaraan di pasar tujuan ekspor.
Pasalnya, sebanyak 20% kapal pengangkut minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat Hormuz berkisar 2-4 juta metrik ton per Februari 2026.
Adapun, sepanjang 2025, Toyota telah mengekspor kendaraan secara utuh (completely built up/CBU) sebanyak 298.457 unit, dengan kontribusi sebesar 58% dari total ekspor nasional.
Kendati demikian, di tengah ketegangan geopolitik saat ini, Toyota memasang target ekspor moderat pada 2026, alias sama seperti yang dibidik pada tahun lalu di angka 300.000 unit.
Deretan model kendaraan elektrifikasi Toyota yang diekspor meliputi Yaris Cross hingga Innova Zenix Hybrid. Sementara itu, model non-elektrifikasi mencakup Avanza, Veloz, Fortuner, Rush, dan sejumlah model lainnya.





