PLN Indonesia Power mencatat produksi energi bersih berbasis biomassa sebesar 1.101,59 gigawatt hour (GWh) sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 16% dibandingkan 2024, seiring optimalisasi program co-firing biomassa di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikelola perusahaan.
Produksi listrik hijau tersebut dihasilkan dari pemanfaatan 1.140.253 ton biomassa yang berasal dari berbagai limbah pertanian dan industri, seperti serbuk kayu (sawdust) cangkang sawit, pellet tandan kosong, sekam padi, woodchip, wood pellet, bonggol jagung, limbah racik uang kertas hingga bahan bakar jumputan padat.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan capaian tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam mempercepat transisi energi sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
"Produksi energi bersih berbasis biomassa sebesar 1.101,59 GWh ini merupakan bukti komitmen PLN Indonesia Power dalam mengakselerasi bauran energi hijau, sekaligus memastikan keandalan sistem kelistrikan tetap terjaga. Implementasi co-firing kami jalankan secara prudent, bertahap, dan berbasis manajemen risiko, sehingga proses dekarbonisasi tidak mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional,” ujar Bernadus dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026)
Implementasi co-firing tersebut juga berdampak pada penurunan emisi karbon. Hingga akhir 2025, PLN Indonesia Power mencatat penurunan emisi sebesar 1.259.696 ton CO₂ avoided, atau meningkat 16% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bernadus menambahkan pemanfaatan biomassa tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat rantai pasok domestik melalui pemanfaatan limbah pertanian dan industri.
"Ke depan, PLN Indonesia Power akan terus meningkatkan skala dan kualitas implementasi co-firing sebagai bagian dari roadmap transisi energi korporasi. Kami berkomitmen menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan, sejalan dengan target EBT nasional dan aspirasi dekarbonisasi jangka panjang,” tambahnya.





