Ketika Kaum Muslimin Diizinkan Berperang, Ini Adab dan Batasannya

republika.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ajaran Islam memiliki aturan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dalam situasi perang. Dalam mengangkat senjata di konflik terbuka, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pertimbangan.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW melarang pasukan Muslimin untuk menyerang anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia (lansia). Begitu pula, para rahib dan pendeta yang sedang berada dalam tempat-tempat ibadah mereka, tidak boleh diganggu.

Baca Juga
  • Hal-hal yang tak Sampai Batalkan Puasa
  • Antisipasi Dampak Geopolitik Melalui Penguatan Ekonomi Domestik dan Pangan Murah
  • Menhub Respons Kekhawatiran Stok BBM 20 Hari Menjelang Mudik Lebaran

Jangankan terhadap manusia; tetumbuhan pun menjadi perhatiannya. Pasukan Islam dilarang merusak pohon di sepanjang jalan maupun arena pertempuran.

Dalam buku Ketika Rasulullah Harus Berperang, Prof Dr Ali Muhammad ash-Shallabi menjelaskan latar sejarah. Mengutip keterangan Ibnu Hisyam, pada zaman Rasulullah SAW, terjadi sebanyak 27 perang yang berkaitan dengan kaum Muslimin.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Di antaranya, ada sembilan jihad yang dipimpin oleh Nabi SAW secara langsung. Itu adalah Perang Badar al-Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Bani Quraidhah, Perang Bani Musthaliq, Perang Khaibar, Pembebasan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Tabuk.

Pemicu tiap pertempuran itu datang dari luar Muslimin. Memang, sejak munculnya risalah Islam, orang-orang kafir sudah menunjukkan kebencian terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka bahkan tidak segan-segan menyakiti Rasulullah SAW tatkala beliau masih tinggal di kota kelahirannya, Makkah al-Mukarramah.

Kemudian, turunlah izin dari Allah Ta’ala. Nabi SAW dan kaum Muslimin lantas hijrah dari Makkah ke Madinah al-Munawwarah—sebelumnya bernama Yastrib. Di kota ini, Rasulullah SAW mengonsolidasi kekuatan umat Islam sembari tetap menghormati keanekaragaman masyarakat setempat.

Cara ini berhasil dengan gemilang. Bahkan, orang-orang Madinah tidak lagi menonjolkan rasa bangga yang berlebihan terhadap kabilah masing-masing (sukuisme), seperti ketika Nabi SAW belum hadir di tengah mereka. Kini, mereka lebih senang meleburkan diri dalam identitas sebagai kaum Muslimin, pengikut al-Musthafa SAW.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Satu Grup dengan Vietnam pada Undian Piala AFF U17 2026 yang Digelar di Jakarta
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Pemerintah Bentuk Tim untuk Lindungi WNI di Timur Tengah
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polda Papua Barat Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Dana Hibah Bawaslu Pegaf Rp4,29 Miliar
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
ICMI Minta Pemerintah Manfaatkan BoP untuk Mediasi Perang di Iran: Supaya Kedua Pihak Mau Berunding
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal Buka Puasa Makassar dan Sekitarnya Hari Ini 6 Maret 2026
• 15 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.