Pasar hatchback kian menyusut, bila mengamati jumlah penjualan dan ketersediaan model yang ada saat ini. Spesifik model konvensional bermesin cetus bakar atau internal combustion engine (ICE) kelas entry level atau B di bawah 1.600 cc.
Data yang diolah dari laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), hanya satu model dari segmen low hatchback yang mencatatkan angka distribusi dari pabrik ke diler selama 2026 ini.
Adalah Toyota Yaris yang tersalurkan 20 unit sepanjang Januari kemarin. Nama-nama beken seperti Volkswagen Polo, Mazda 2 Hacthback, Suzuki Baleno, hingga Honda City Hatchback sirna dari daftar.
Khusus tiga nama terakhir di atas, pabrikan yang bersangkutan telah mengkonfirmasi bahwa modelnya sudah tidak lagi dijual atau diproduksi. Namun, masih ada yang mejeng di laman resmi seperti Daihatsu Sirion dan Honda City Hatchback.
Ini tentunya kontras dibanding capaian periode 2025 yang masih catatkan angka penjualan 2.794 unit, disumbang dari model-model yang di atas tadi. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu coba menjelaskan fenomena ini.
"Hatchback kelas B semakin menyempit jadi niche urban karena nilai tambahnya sekarang masih terasa sulit dibedakan dari opsi lain yang menawarkan harga mirip. Apalagi sejak kehadiran SUV dan crossover pada kelas yang sama," buka Yannes kepada kumparan, Rabu (4/3).
Menurut Yannes, model-model SUV dan crossover kini semakin meluas merambah ke berbagai tingkat harga yang beririsan dengan pasar hacthback entry level. Satu sisi menawarkan kelebihan seperti ruang kabin lega, ground clearance lebih tinggi, dan model beragam.
"Memang karakter hatchback kelas ini unggul dalam hal handling atau kelincahan berkendara, tetapi faktor ini tidak selalu menjadi prioritas utama keputusan pembelian di Indonesia yang mencari utilitas keluarga, kenyamanan, keamanan," terangnya.
Segmen B atau entry level hatchback ini, lanjutnya, masih harus berhadapan dengan kelas LMPV dan ragam jenis mobil listrik yang punya keunggulan lebih dalam rasionalitas pembelian. Sehingga wajar pasar mulai secara perlahan mengalihkan pandangan dari segmen ini.
"Artinya yang bertahan adalah hatchback jenis LCGC (Low Cost Green Car) seperti Brio Satya, Agya, dan Ayla karena mereka unggul di harga yang sangat terjangkau. Sedangkan hatchback di atasnya langsung berhadapan dengan MPV 7-seater dan Low SUV," jelas Yannes.
Pada bulan yang sama, lini hatchback LCGC masih menyumbang angka ratusan sampai ribuan unit ke jaringan diler masing-masing. Honda Brio Satya terserap 3.430 unit, Toyota Agya 1.077 unit, dan Daihatsu Ayla sebanyak 900 unit awal 2026 ini.
"Gaya hidup keluarga muda lebih serbaguna, seperti perjalanan akhir pekan ke wilayah luar dengan membawa lebih banyak barang sehingga Low SUV atau crossover dinilai lebih fleksibel," beber Yannes.
Kurang dari satu tahun, setidaknya dua model pamit dari pasar Indonesia. Pertama Suzuki Baleno pada 2025 kemarin dan Honda City Hatchback yang produksinya dihentikan, meski pabrikan menerangkan bahwa hal itu bukan berarti eksistensinya berakhir.
"Kalau cari masih ada di diler stoknya. Jadi kami tidak bicara diskontinu total, tapi ya kita lihat perkembangan market seperti apa, itu yang menentukan kita perlu terus atau tidak, tapi bisa saja kalau marketnya butuh, marketnya perlu, marketnya ingin ya kenapa tidak," ungkap Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy di Jakarta, Selasa (3/3).
Selain itu ada satu model lain yang aktivitas penyaluran unitnya juga tak tampak selama Januari 2026, namun modelnya masih ditampilkan di laman resmi yakni Daihatsu Sirion. Saat ini, model tersebut dibanderol Rp 236.350.000.
Penjualan wholesales entry level hatchback ICE (<1.600 cc) 2025Suzuki Baleno 1.956 unit
Honda City Hatchback 454 unit
Daihatsu Sirion 200 unit
Toyota Yaris 184 unit.
Toyota Yaris 20 unit.





