Sederet Dampak Iran Tutup Selat Hormuz usai Diserang AS-Israel

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, memicu gangguan besar pada rantai pasokan global. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi dan bahan baku dunia, sehingga gangguan yang terjadi berpotensi memicu lonjakan harga minyak, pupuk, hingga pangan.

Sejak akhir pekan lalu, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti. Jalur ini selama ini dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas dunia, serta sekitar seperempat hingga sepertiga perdagangan bahan baku pupuk global.

Pengiriman Nitrogen dan Amonia Terhambat

Dikutip dari The Guardian, Jumat (6/3), gangguan itu memicu kekhawatiran terhadap pasokan pupuk yang menjadi komponen penting bagi produksi pangan dunia. Penutupan jalur perdagangan turut menghambat pengiriman amonia dan nitrogen, bahan utama dalam produksi pupuk sintetis.

Sekitar setengah produksi pangan global bergantung pada nitrogen sintetis. Tanpa pasokan pupuk yang memadai, hasil panen berisiko menurun dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan seperti roti, pasta, hingga kentang, serta meningkatkan biaya pakan ternak.

Kawasan Teluk sendiri menjadi lokasi beberapa pabrik pupuk terbesar di dunia. Penutupan jalur transportasi yang berkepanjangan berpotensi mengganggu produksi sekaligus meningkatkan biaya distribusi.

Iran merupakan eksportir urea terbesar keempat di dunia setelah Rusia, Mesir, dan Arab Saudi. Urea adalah pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan dalam pertanian global.

Produksi pupuk sangat bergantung pada ketersediaan energi, khususnya gas fosil yang menyumbang sekitar 60 persen hingga 80 persen dari biaya produksi pupuk nitrogen. Situasi semakin rumit setelah Qatar menutup fasilitas produksi terbesarnya akibat serangan drone.

Harga pupuk pun langsung merespons kondisi tersebut. Harga urea Mesir yang menjadi acuan global melonjak lebih dari 25 persen menjadi USD 625 per metrik ton, dari sebelumnya berada di kisaran USD 484 hingga USD 490 per ton.

Selain pupuk, Timur Tengah juga menyumbang sekitar 45 persen perdagangan sulfur global, yang merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk serta berbagai logam dan bahan kimia industri.

Chris Lawson dari perusahaan konsultan CRU Group mengatakan kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan krisis energi pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Namun dampaknya berpotensi lebih luas jika gangguan berlangsung lama.

"Khususnya jika [jalur perdagangan lewat] Selat Hormuz dibatasi hingga lebih dari dua minggu," katanya.

Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen

Di sisi lain, pasar energi global juga langsung bereaksi terhadap gangguan tersebut. Harga minyak dunia melonjak sekitar 3 persen pada perdagangan Kamis (5/3).

Minyak jenis Brent naik USD 2,65 atau 3,26 persen ke level USD 83,99 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik USD 2,76 atau 3,70 persen menjadi USD 77,42 per barel.

"Pasar minyak mentah tetap waspada karena menghadapi risiko pasokan yang berkelanjutan menyusul serangan di Timur Tengah dan kekhawatiran berpusat pada aliran pasokan melalui Selat Hormuz," tulis laporan Reuters.

Situasi keamanan di kawasan juga semakin memanas. Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi (5/3), sementara sejumlah insiden militer lain terjadi di kawasan Timur Tengah hingga perairan Asia Selatan.

Pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di atau dekat Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut laporan Operasi Perdagangan Maritim Inggris.

Akibat meningkatnya ketegangan tersebut, aktivitas pelayaran di kawasan juga terganggu. Setidaknya 200 kapal, termasuk kapal tanker minyak, LNG, dan kapal kargo, tercatat menunggu di perairan terbuka di sekitar Irak, Arab Saudi, dan Qatar.

Ratusan kapal lainnya juga tertahan di luar Selat Hormuz dan belum dapat memasuki jalur pelayaran tersebut.

Di saat yang sama, Irak sebagai produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dilaporkan memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dan jalur ekspor.

Qatar, produsen gas alam cair terbesar di kawasan Teluk, juga menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada ekspor gasnya. Sumber industri menyebutkan pemulihan produksi normal kemungkinan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.

Harga BBM RI Berpotensi Naik hingga 25 Persen

Ketegangan ini juga berpotensi berdampak pada Indonesia, terutama terhadap harga bahan bakar minyak (BBM). Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan penutupan Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak yang lebih tinggi dibandingkan jika jalur tersebut tetap terbuka.

"Artinya bahwa kemungkinan kenaikan harga BBM bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah yang kurang lebih 90 persen, tanpa penutupan selat Hormuz harga BBM akan naik menjadi 10-25 persen. Sedangkan dengan penutupan selat Hormuz Harga BBM bisa naik bisa lebih dari 25 persen," ungkapnya ketika dihubungi kumparan, Selasa (3/3).

Dia menjelaskan jika Selat Hormuz tetap terbuka, harga minyak kemungkinan naik 0–25 persen dengan peluang sekitar 80 persen, sehingga harga minyak bisa berada di kisaran USD 97,5 per barel dalam waktu dekat.

Namun jika jalur benar-benar ditutup Iran, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi dalam beberapa hari hingga pekan ke depan.

"Penyesuaian harga BBM untuk non subsidi, pasti akan dilakukan, dengan harga bisa di 10-25 persen, tapi mudah-mudahan Pertamina bisa meng-cap 5-10 persen, karena Indonesia memperoleh windfall profit PNBP karena menjual minyak Indonesia," jelas Yayan.

Sebelumnya, harga BBM nonsubsidi Pertamina telah naik sejak 1 Maret 2026. Harga Pertamax di wilayah Jakarta dan sebagian Jawa-Bali serta Nusa Tenggara kini menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800 per liter.

Pertamax Turbo naik menjadi Rp13.100 per liter, Pertamax Green menjadi Rp12.900 per liter, Dexlite menjadi Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp14.500 per liter. Sementara harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saham IFSH, ESSA hingga PTBA Puncaki Top Gainers Sepekan kala IHSG Terjungkal
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Jalur Lembah Anai Sumbar Berfungsi 24 Jam H-10 hingga H+10 Lebaran
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Pertahanan AS belum Mampu Hadapi Drone Shahed Iran
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Amerika Serikat Persenjatai Pasukan Kurdi Lawan Iran di Darat, ini Wilayah yang Diduga Jadi Target
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prancis Sambut Baik Langkah Indonesia Larang Medsos untuk Anak
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.