JAKARTA, KOMPAS.com - Harapan pengemudi ojek online (ojol) mengantongi pendapatan lebih menjelang Lebaran dari Bantuan Hari Raya (BHR) berujung kecewa.
Insentif yang diklaim sebagai bentuk apresiasi aplikator kepada pengemudi itu dinilai jauh dari memuaskan. Para ojol kecewa lantaran kerja keras mereka selama belasan tahun hanya diganjar BHR ratusan ribu rupiah saja.
Syarat rumitKekecewaan salah satunya dirasakan oleh Teguh (36), pengemudi ojol yang kerap beredar di Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Belasan tahun mengaspal, Teguh hanya mengantongi BHR Rp 250.000.
"Saya THR dapet Rp 250.000, kemarin ditransfernya. Jadi driver sih sudah 11 tahun ya total, dari awal-awal," ungkap Teguh saat ditemui Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Teguh menjelaskan, nominal BHR yang diterima setiap pengemudi sangat bervariasi. Aplikator menerapkan sistem level mulai dari Harapan, Andalan, hingga Jawara yang sangat bergantung pada performa bulanan pengemudi untuk menentukan besaran insentif.
"Ada yang bisa dapet Rp 400.000, Rp 500.000, paling gede sampai Rp 900.000. Bedanya dari performa. Ada level-levelnya. Jadi tiap level itu beda-beda dapet THR-nya," jelasnya.
Baca juga: Ojol di Bogor Terima BHR hingga Rp900.000, Ada yang Pakai untuk Bayar Zakat
Namun, untuk menyentuh angka maksimal Rp 900.000, syarat yang dipatok aplikator disebut sangat sulit.
Pengemudi harus mempertahankan level tertinggi, yakni "Jawara", selama 12 bulan penuh dalam satu tahun. Artinya, pengemudi harus menyapu bersih seluruh pesanan tanpa boleh menolak atau melakukan pembatalan (cancel).
"Kemarin saya Jawara-nya cuma 4 bulan, sisanya enggak. Jadi dapetnya Rp 250.000. Emang kalau mau dapet Rp 200 ribuan minimal harus Jawara 4 kali," ucapnya.
Tak realistisKeluhan serupa disampaikan Amri (35), ojol lainnya menerima BHR sekitar Rp 200.000.
Menurutnya, tuntutan aplikator agar pengemudi tidak melakukan pembatalan pesanan demi status "Jawara" tidak realistis dengan kondisi di lapangan.
"Masalahnya susah jadi driver tuh, kita kan kadang mau enggak mau harus nolak kalau emang enggak bisa. Misalnya lagi banjir kemaren kan, jadi banyak nge-cancel gara-gara customer enggak tau kalau di situ banjir. Kalau dipaksa motor kita rusak, di-cancel performa kita turun," ujar Amri.
Baca juga: Cerita Ojol di Bekasi Soal BHR Lebaran: Ada yang Dapat Rp150.000 hingga Rp900.000
Sistem tersebut juga dinilai merugikan karena pengemudi tetap menanggung sanksi penurunan performa meskipun penumpang yang membatalkan pesanan.
"Kalau customer cancel kita kena pelanggaran. Padahal customer nih yang cancel, performa kita ikutan turun. Jadi mau jagain Jawara setahun juga dibela-belain susah, saya mah ngalir aja dah," ucapnya.
Teguh lantas membandingkan BHR tersebut dengan besaran potongan harian dari aplikator yang dinilai kian mencekik.





