Penulis: Fityan
TVRINews - Gloucestershire, Inggris
Strategi Pertahanan Udara Baru Terhadap Ancaman Rudal Iran
Pesawat pengebom strategis milik Amerika Serikat, B-1 Lancer, resmi mendarat di pangkalan udara RAF Fairford, Inggris, pada Jumat 6 Maret 2026 waktu setempat.
Pengerahan alutsista ikonik berukuran 44,5 meter ini menandai fase baru dalam kerja sama pertahanan transatlantik di tengah meningkatnya ketegangan regional di Timur Tengah.
(B-1, telah dikerahkan dalam operasi di Suriah, Libya, Afganistan, dan Irak, mampu mengangkut 34 ton senjata dan peralatan militer (Foto: BBC News))
Pesawat yang dijuluki "The Bone" ini bukan sekadar armada biasa. Menurut data dari Boeing, B-1 Lancer merupakan pengebom tercepat di jajaran Angkatan Udara AS, dengan kecepatan maksimal melampaui 1.448 km/jam.
Pesawat seberat 86 ton ini mampu membawa hingga 24 rudal jelajah dan dilengkapi dengan sistem radar canggih, GPS, serta perangkat pengacak elektronik (jammer) untuk menembus pertahanan musuh.
Pangkalan RAF Fairford, yang terletak di perbatasan Gloucestershire dan Wiltshire, secara historis memang kerap menjadi titik tolak bagi misi pengeboman jarak jauh Amerika Serikat.
Izin Terbatas dari Downing Street
Kehadiran armada tempur ini menyusul izin khusus yang diberikan oleh Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer. Namun, pemerintah Inggris menegaskan bahwa izin penggunaan pangkalan militer tersebut bersifat terbatas.
"Kami telah bersikap sangat jelas bahwa respons kami adalah mengizinkan AS menggunakan pangkalan kami secara terbatas, spesifik, dan defensif guna melindungi nyawa warga Inggris, kepentingan nasional, serta sekutu kami di kawasan tersebut," ujar juru bicara resmi Perdana Perdana Menteri kepada wartawan pada Jumat pagi.
Dalam pembagian tugas ini, militer Inggris tetap berfokus pada penghalauan drone di udara, sementara Amerika Serikat menargetkan lokasi peluncuran rudal di sumbernya.
Eskalasi Operasi Pertahanan
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Kamis menyatakan bahwa intensitas serangan terhadap fasilitas militer Iran diperkirakan akan meningkat secara drastis dalam waktu dekat.
"Ini mencakup lebih banyak skuadron tempur, lebih banyak kapabilitas, dan kapasitas pertahanan yang lebih kuat. Ini berarti frekuensi pengerahan pesawat pengebom akan jauh lebih sering," tegas Hegseth.
Meskipun Inggris memberikan fasilitas logistik dan basis operasional, London hingga saat ini memilih untuk tidak terlibat langsung dalam aksi serangan tersebut.
Jet tempur RAF sejauh ini hanya dikerahkan untuk menjatuhkan rudal dan drone yang ditembakkan Iran ke arah sekutu di kawasan tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews





