REPUBLIKA.CO.ID, NAGAN RAYA -- Masyarakat korban banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh hingga kini belum menikmati sarana penerangan listrik sejak kawasan tersebut dilanda banjir pada akhir November 2025.
“Tidak hanya pascabanjir, memasuki hari ke-17 bulan suci Ramadhan, kami bersama masyarakat makan sahur dan berbuka puasa dalam kondisi gelap. Hanya penerangan seadanya yang ada,” kata Samsuardi, warga Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Jumat malam (6/3/2026).
Baca Juga
Selat Hormuz Ditutup, Bahlil Umumkan Bakal Konversi 120 Juta Motor Jadi Motor Listrik
Nuzulul Quran 17 Ramadhan: Bagaimana Proses Turunnya Alquran?
Bantah Serang Azerbaijan dengan Drone, Iran Tuding Ada Operasi 'Bendera Palsu' Mossad
Ia mengatakan hingga saat ini ratusan warga Beutong Ateuh Banggalang yang mengungsi di tenda darurat terpaksa berbuka puasa dan sahur menggunakan lilin serta penerangan tradisional atau lampu panyet (lampu yang dinyalakan menggunakan api).
Samsuardi mengatakan penerangan merupakan sarana yang sangat penting di bulan suci Ramadhan, terutama saat berbuka puasa dan makan sahur. Selain itu, penerangan juga dibutuhkan masyarakat untuk menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Coba dibayangkan bagaimana nasib masyarakat berbuka dan makan sahur dalam gelap gulita di tenda pengungsian, apalagi bagi warga yang tinggal jauh dari tetangga,” ujarnya.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)