Grid.ID - Masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan jangka panjang. Namun, untuk mencapai kondisi tersebut, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama bagi anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil di Indonesia.
Upaya untuk memastikan generasi muda Indonesia tumbuh dengan baik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, tokoh publik, dan masyarakat luas. Berbagai inisiatif terus dilakukan untuk memastikan anak-anak Indonesia memiliki akses terhadap pendidikan yang layak, kesehatan yang baik, serta lingkungan yang aman dan mendukung.
Direktur Eksekutif Dini Widiastuti dari Plan Internasional Indonesia bersama dengan ZAP dan LEE Management menegaskan bahwa pembangunan generasi muda harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Menurutnya, generasi muda Indonesia perlu dipastikan tumbuh sehat, memiliki kecerdasan, serta keterampilan yang memadai untuk menghadapi masa depan.
Dalam sebuah kesempatan, ia menyampaikan bahwa fokus utama dari berbagai program yang dilakukan adalah memastikan anak-anak memiliki kondisi yang memungkinkan mereka berkembang secara optimal. Plan Indonesian, ZAP, dan LEE Management pun memutuskan untuk mengadakan program CSR "Ramadan for A Brighter Change: Aksi Kebaikan untuk Indonesia Timur".
"Kalau kita bicara anak, ya kami ingin memastikan bahwa generasi muda di Indonesia, dari anak sampai dia remaja sampai terus kemudian dewasa muda, itu mereka sehat. Sehat dulu. Kemudian mereka cerdas, mereka juga berdaya, punya kemampuan, punya skill, masuk ke dunia kerja ataupun juga menjadi pemimpin, berpartisipasi di dalam pembangunan, dan mereka juga tangguh,” ujar Dini Widiastuti di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, ketangguhan menjadi aspek penting bagi generasi muda Indonesia. Anak-anak perlu dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai dari bencana alam hingga perubahan iklim.
"Tangguh itu kalau ada apa ya, bencana, terus perubahan iklim, mereka tahu apa yang harus dilakukan, dan mereka juga aman terlindungi dari kekerasan,” lanjutnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai pihak dilibatkan dalam program-program pemberdayaan anak dan remaja. Kerja sama dilakukan dengan sektor swasta, komunitas masyarakat sipil, hingga tokoh publik yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Dini menekankan bahwa anak-anak muda bukan sekadar penerima manfaat program, tetapi juga aktor perubahan yang dapat membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
"Kami percaya bahwa anak-anak muda di Indonesia itu punya kekuatan untuk membuat perubahan. Jadi mereka bukan saja peserta pasif, tapi juga mereka bisa membawa perubahan, mendobrak norma, dan memberikan contoh-contoh yang inovatif,” jelasnya.
Meski berbagai program telah dijalankan, tantangan di lapangan masih sangat besar. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kondisi geografis yang kompleks, sehingga akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan air bersih masih belum merata.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah ini, banyak anak-anak yang tinggal jauh dari akses infrastruktur dasar.
Dini menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya mendampingi puluhan ribu anak di berbagai desa terpencil di wilayah tersebut.
"Kalau kita bicara masalah kesehatan, masalah pendidikan, kami kerja di NTT itu ada 30.000 anak dampingan Plan. Nah, mereka itu di desa-desa yang mungkin bisa satu jam, dua jam dari jalan utama,” ujarnya.
Kondisi pendidikan di beberapa daerah juga masih memprihatinkan. Banyak sekolah yang mengalami kerusakan sehingga tidak layak digunakan sebagai tempat belajar.
"Di NTT itu 30% dari sekolahnya itu dalam kondisi rusak dan tidak layak sebenarnya. Bukan hanya bangunannya, tetapi juga kualitas pendidikannya, peralatan belajarnya juga, itu mempengaruhi sekali bagaimana anak-anak belajar,” kata Dini.
Selain pendidikan, akses terhadap air bersih juga menjadi tantangan besar bagi masyarakat di wilayah tersebut. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.
Masalah air bersih tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada pendidikan anak-anak, terutama anak perempuan. Kurangnya fasilitas sanitasi di sekolah dapat menyebabkan anak perempuan kesulitan mengikuti kegiatan belajar, terutama ketika mereka mulai mengalami menstruasi.
"Air bersih juga masih banyak sekali berkendala. Jadi hal-hal yang basic yang untuk anak-anak di kota, apalagi Jakarta, itu tinggal buka keran sudah ada air bersih, atau ke sekolah bisa naik kendaraan dan sekolahnya bagus. Nah, ini yang tidak dinikmati oleh anak-anak kita di sana,” jelas Dini.
Karena itu, berbagai program dilakukan untuk membangun fasilitas sanitasi dan akses air bersih di sekolah-sekolah maupun di komunitas masyarakat.
"Yang coba kami kontribusikan adalah membangun komunitas, membangun sekolah, bukan hanya secara fisik, tapi juga kualitas belajar mengajarnya, terutama untuk juga peralatan sanitasi dan air bersih, terutama yang perempuan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan fasilitas sanitasi yang memadai dapat mencegah anak perempuan putus sekolah.
"Karena untuk anak-anak perempuan itu kalau nggak ada air bersih, terutama adik-adik yang sudah menstruasi, itu akan sangat terkendala sekali dan mereka bahkan bisa drop out,” katanya.
Pengalaman langsung di lapangan juga dirasakan oleh aktor Indonesia, Joe Taslim, yang ikut mengunjungi wilayah di Flores bersama Plan Internasional Indonesia, ZAP, dan LEE Management. Kunjungan tersebut membuka matanya terhadap realitas kehidupan anak-anak di daerah terpencil.
"Terima kasih untuk Plan Indonesia yang sudah ngajak saya berkunjung pertama kali tahun lalu. Kita ke Flores, ke Kabupaten Nagekeo. Di situ pertama kali kita menyaksikan realita yang terjadi di sana di mana anak-anak di sana itu kebutuhan dasar yang paling mendasar, air bersih pun masih sangat terbatas,” ujar Joe Taslim.
Ia juga melihat langsung bagaimana kualitas air yang digunakan masyarakat masih jauh dari standar kebersihan yang layak.
"Kualitas air itu pun masih sangat tidak higienis,” katanya.
Namun, di balik keterbatasan tersebut, Joe justru menemukan pelajaran berharga dari kehidupan anak-anak di sana. Ia melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kemewahan atau fasilitas modern.
"Saya belajar banyak dari anak-anak itu bahwa walaupun dengan semua keterbatasan, mereka sangat-sangat bahagia dalam arti mereka melihat bahwa ini kehidupan kita,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bagi banyak orang yang hidup dengan berbagai kemudahan agar lebih bersyukur sekaligus lebih peduli terhadap sesama.
"Saya belajar bahwa kebahagiaan itu ternyata sangat-sangat sederhana. Tapi apa yang bisa kita lakukan sebagai orang-orang yang lebih beruntung adalah bisa menyetarakan apa kenikmatan hidup kita dan juga bisa menyeimbangkan dengan apa kekurangan mereka,” kata Joe.
Upaya meningkatkan kualitas hidup anak-anak di daerah terpencil memerlukan kerja sama yang luas. Organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, tokoh publik, serta masyarakat umum memiliki peran penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Program-program yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, sanitasi, serta pemberdayaan anak muda menjadi langkah penting untuk memastikan generasi masa depan Indonesia tumbuh dengan lebih baik.
Dengan dukungan yang tepat, anak-anak Indonesia tidak hanya dapat mengatasi keterbatasan yang ada, tetapi juga menjadi generasi yang mampu membawa perubahan bagi bangsa. (*)
Artikel Asli


