Philip Kotler dkk Soroti Era Baru Pemasaran di Tengah Dominasi AI

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA--Teknologi artificial intelligence (AI) kini merambah hampir seluruh sektor industri, termasuk pemasaran. Kecerdasan buatan bukan hanya menciptakan peluang baru, tetapi juga menghadirkan tantangan serius dalam cara konsumen mengambil keputusan.

Menjawab perubahan tersebut, pakar pemasaran dunia Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan meluncurkan buku terbaru mereka berjudul Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketers in the Age of AI pada Februari 2026.

Marketing 7.0 merupakan kelanjutan dari seri sebelumnya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Sejak Marketing 3.0 hingga 6.0, seri ini dikenal mengurai evolusi pemasaran yang terus berubah mengikuti dinamika zaman.

Iwan Setiawan, COO Group MCorp sekaligus co-author buku tersebut, menjelaskan bahwa karya terbaru ini berfokus pada perubahan cara berpikir konsumen di era AI. Jika buku sebelumnya menekankan human-centric marketing, kini pendekatannya berkembang menjadi mind-centric marketing.

Menurut dia, seri ini selalu lahir dari perubahan pasar yang nyata. “Premisnya sederhana, kalau market berubah maka marketing harus berubah,” ujarnya saat ditemui Bisnis.com.

Dia menegaskan, kemunculan Marketing 7.0 bukan sekadar kelanjutan seri, melainkan respons atas pergeseran perilaku konsumen yang semakin dipengaruhi algoritma. AI kini berperan besar dalam menentukan konten yang ditonton hingga produk yang dibeli.

Baca Juga

  • DCO Soroti Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI)
  • Viral di Medsos Artificial Intelligence (AI) Bisa Bikin Bukti Transfer Fiktif, Bank Indonesia Buka Suara
  • Pengamat Desak Peraturan Artificial Intelligence (AI) Segera Disampaikan ke Prabowo

Salah satu fenomena yang disorot adalah munculnya “augmented human”. Konsumen, paparnya, kini sangat bergantung pada sistem rekomendasi digital dalam memilih hiburan, informasi, maupun barang konsumsi.

“Banyak keputusan kita hari ini sudah di-outsourcing ke teknologi,” kata dia. Kondisi ini disebut sebagai cognitive outsourcing, yakni ketika manusia menyerahkan sebagian proses berpikirnya kepada sistem digital.

Jika Marketing 3.0 berbicara tentang nilai kemanusiaan dan empati brand, maka 7.0 bergerak lebih jauh dengan membahas struktur kognitif konsumen. Pemasaran tidak lagi sekadar menyentuh hati, tetapi memengaruhi cara orang berpikir.

Buku ini juga menjadi koreksi terhadap praktik pemasaran digital yang terlalu berorientasi jangka pendek. Banyak perusahaan, menurut dia, hanya mengejar return on ad spend tanpa membangun diferensiasi dan identitas jangka panjang.

Dalam konteks Indonesia, relevansi buku ini dinilai semakin kuat. Ekonomi digital tumbuh pesat sejak pandemi dan kini didominasi generasi milenial serta Gen Z dengan karakter berbeda.

Menurut dia, milenial cenderung tertarik pada citra dan aspirasi, sementara Gen Z lebih rasional dan detail dalam mengambil keputusan. “Gen Z mencari autentisitas dan substansi, bukan sekadar tampilan,” ujarnya.

Perbedaan tersebut menuntut strategi pemasaran yang lebih adaptif dan kontekstual. Di tengah dominasi AI dan algoritma, Marketing 7.0 mengingatkan bahwa kendali berpikir tetap harus berada di tangan manusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dulu jadi Pelatih Andalan Timnas Indonesia, sekarang Fokus Melatih Pemain di Klub Besar ini
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Ingin Pindahkan Sistem Rudal Patriot di Korsel untuk Lawan Iran
• 19 jam laludetik.com
thumb
Panggil 3 Pemain Diaspora, Kurniawan Dwi Yulianto Siapkan Skuad Timnas Indonesia U-17 Jelang Piala AFF U-17 2026
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Telkom AI Center Dukung Integrasi AI Untuk Pekerja Gig Melalui Webinar Gig Economy Talks
• 11 jam lalumediaapakabar.com
thumb
AS Berikan Izin Sementara untuk India Bisa Impor Minyak Rusia
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.